Tuhan yang di atas, kalau memang masih punya mata, tolong buka mata lebar-lebar dan segera cabut nyawa si bajingan Indra itu!Tania menahan sesak di tenggorokannya. Suaranya nyaris tercekik saat ia berbisik pelan, “Puspa.”Di dalam kamar, Puspa nggak bereaksi sedikit pun. Tatapannya kosong, terus terpaku pada jendela seolah seluruh dunia di luar sana sudah nggak ada artinya. Tania coba lagi, kali ini lebih pelan, dengan nada hampir memohon, “Puspa, ini aku.”Namun tetap saja, nggak ada jawaban. Ia kira suaranya terlalu pelan, tapi juga nggak berani naikkan volume suaranya, takut ada perawat atau penjaga yang dengar dan datang periksa.Yang ia nggak tahu, Puspa sebenarnya dengar suara itu. Namun bagi Puspa, suara itu hanyalah bagian dari halusinasi yang terus menghantuinya. Sebelumnya, ia juga sering dengar seseorang panggil namanya. Setiap kali itu terjadi, hatinya akan berdebar, matanya menatap penuh harap ke arah pintu, namun yang dilihatnya selalu sama, kehampaan.Sekali, dua kali,
Leer más