Indra memang sudah seperti orang kena guna-guna.Keras kepalanya luar biasa, terutama jika menyangkut Puspa. Ia terobsesi, nyaris seperti orang kesurupan.Endah sampai merasa, kalau suatu hari nanti ia meninggal lebih awal, pasti karena dibuat mati pelan-pelan oleh ulah anaknya sendiri.“Lalu apa rencanamu?” tanyanya dengan wajah gelap.Puspa sudah menikah, sudah punya anak. Kamu bisa apa lagi?Indra menoleh ke luar jendela.Di ambang jendela, seekor burung bertengger sendirian, siluetnya tampak begitu kesepian. Di kejauhan, sepasang burung lain terbang berdampingan, saling menemani, bebas, santai, dan penuh kebahagiaan.“Bawa dia pulang,” ucapnya pelan.Kalau Puspa kembali, ia nggak akan sendirian lagi.Endah terdiam.Sekarang dia benar-benar merasa bukan anaknya yang gila, tapi dirinya yang hampir gila!Dengan wajah menghitam, Endah membentak, “Maksudmu gimana?! Kamu beneran mau jadi orang ketiga?!”Ia benar-benar nggak nyangka telah lahirkan anak budak cinta!Indra alihkan pandangan
Magbasa pa