Eric menggertakkan gigi belakangnya, lalu panggil dengan nada peringatan, “TONIIIIII!”Toni seketika langsung jatuhkan garpunya, lalu menyelinap ke pelukan Puspa, tampangnya jelas: asal ada ibu, semua aman.“Ibu, lindungi aku. Ada monster.”Puspa tertawa pelan.“Pagi-pagi begini kenapa marahnya sudah sebesar itu? Nggak takut liver kamu kepanasan?”Tatapannya gelap dan dalam saat ia melirik si Toni yang sembunyi di pelukan ibunya.“Aku nggak takut liverku panas. Yang aku takut, telapak tangan besiku lama nggak latihan lalu jadi tumpul. Toni, sepertinya kamu sudah kangen rasanya pantatmu jadi bengkak, yah?”Anak itu sudah gemetar sembunyi, tapi mulutnya sama sekali nggak berhenti.“Perempuan itu suka laki-laki yang lembut dan sopan. Ayah galak begitu, kalau Ibu nggak suka Ayah, itu salah Ayah sendiri. Lihat aku, aku kan pria sejati kecil. Itu sebabnya Ibu paling suka aku.”Eric hanya tertawa dingin, sambil memutar pergelangan tangannya, tanda-tanda siap turun tangan.“Hari ini cuacanya b
Read more