“Sayang, aku nggak enak badan.” Suara Eric terdengar sangat manja.Puspa tenangkan dia dengan lembut, “Sabar ya, sebentar lagi setelah disuntik pasti kerasa enakan.”Eric pejamkan mata sambil mengerang pelan.“Kalau gitu kamu harus temani aku.”Nada suara Puspa tetap hangat, “Iya, aku temani.”Bu Sekar melirik Indra, lalu menoleh ke arah Puspa yang menjauh.Jadi ini suami baru Puspa, ayah dari anaknya.Ia tampak lebih muda, wajahnya tampan, dan saat berdiri bersama Puspa, mereka terlihat cukup serasi.Pikirkan itu, Bu Sekar kembali menatap Indra.Hmmmm, usia memang nggak bisa bohong.Meski uban di pelipisnya telah disemir hitam, umur tetaplah umur. Yang muda memang lebih menarik.Lihat mata Indra yang hampir memerah, Bu Sekar segera bersuara, “Tuan, ayo kita juga ke UGD.”Indra jalan ikuti seperti boneka yang ditarik benang dan penarik benang itu nggak lain adalah Puspa.Ruang UGD penuh dengan pasien.Di sekitar Puspa sudah nggak ada kursi kosong. Indra hanya bisa duduk dua baris di be
続きを読む