“Gak ada, aku gak bilang apa-apa!” ketus Aya. Tatapannya tajam pada Zayn. Ia juga melirik Ari yang menatapnya dengan alis saling bertaut. “Jelas aku denger apa yang kamu bilang, Aya,” Zayn mendekat selangkah lagi, “jelaskan sama aku, please, Aya,” pintanya. “Gak semuanya yang kamu denger itu harus ada penjelasannya. Kita udah selesai, dengan apapun alasan aku, kita udah putus, Mas.” “Kamu masih panggil aku ‘mas’,” Zayn menggeleng. “Sorry, kebiasaan,” ujar Aya ringan. Tangannya meraih kembali gelas butter beer, “Gak usah dipikirin, sih,” katanya lagi dengan nada tak acuh dan minum sisanya dengan pelan. “Aya,” panggil Zayn. “Jangan bikin aku jadi penjahatnya lagi, Zayn,” pelan Aya mengatakannya. “Aku udah cukup jahat.” “Kamu memang jahat, Aya! Kamu berubah jadi orang yang gak aku kenal.” “Kita emang seharusnya gak kenal.” “Aya!” Kali ini bukan suara Zayn, tapi Chandra. Aya menghela napas. Kapan ini berakhir, keluhnya dalam hati. “Kak,” panggil Aya pelan lalu menggeleng. Sal
Read more