"Sudah bulat mau cerai?" Easton masih belum menyerah, terus mengejar dengan pertanyaan itu, sekali lagi memastikan isi hati Maggie.Bagaimana kalau ... Maggie hanya sedang emosi?Maggie terus mengangguk. Dia tetap mempertahankan posisi berlutut di samping kaki Easton. Seluruh dirinya kehilangan martabat dan harga diri. Demi bisa meninggalkannya, Maggie telah membuang semua kebanggaan dan harga dirinya.Easton mendongak sedikit, takut kabut di matanya berubah menjadi air mata dan jatuh. Dia menarik Maggie dari kakinya, mengertakkan gigi sambil bertanya penuh amarah, "Maggie, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?""Maggie, apa kamu sadar?" Easton mengulanginya dengan linglung. Tiba-tiba, dia tertawa, mengangkat kedua tangannya, dan mengusap wajahnya sendiri."Baiklah. Lagi pula, hubungan kita sejak awal memang sebuah kecelakaan. Bukan, lebih tepatnya sebuah musibah. Musibah yang benar-benar buruk."Maggie berkedip pelan. Wajahnya yang cantik dan memesona itu sama sekali tak memperlihat
Read more