Malam itu, taman kota tak seramai biasanya, tapi lampu-lampu taman memancarkan cahaya hangat yang meneduhkan suasana. Dari kejauhan, suara tawa dan percakapan ramai terdengar dari kafe kecil di sudut taman. Arka melangkah masuk tepat waktu, berdiri sesaat di depan pintu kaca sebelum menatap ke arah pojok ruangan. Di sana, Aluna duduk sendiri, tubuhnya membungkuk sedikit, tatapannya jauh dari dingin seperti terakhir mereka bertemu. Ada kerentanan yang samar terlukis di wajahnya, seolah meluruh dari segala beku yang dulu menahan. “Terima kasih sudah datang,” suaranya lembut, nyaris tersendat. Arka menutup pintu dengan tenang, melangkah menuju kursi di hadapannya tanpa sepatah kata pun. Matanya menatap lurus, tanpa senyum, hanya ketegasan yang menuntut jawaban. “Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” suaranya berat, menahan emosi. Aluna menghela napas pelan, menunduk sebentar sebelum menatap langsung ke matanya. “Arka… aku tahu semuanya sudah berakhir.” Dia menunggu, tapi Ar
Read more