Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan, campuran antara haru dan bahagia yang membuat udara terasa begitu sakral. Beberapa tamu tak kuasa menahan air mata, sesekali mengusap pelan wajah mereka, sementara yang lain tersenyum lebar, terhanyut dalam momen itu. Di tengah keramaian, Arka dan Akira berdiri saling berhadapan, tangan mereka masih erat bertaut seakan takut terpisah. Tiba-tiba, suara kecil tapi nyaring memecah keheningan, “Cium… cium…!” Dari arah belakang, Lintang muncul dengan wajah penuh semangat, tanpa sedikit pun rasa malu. Naya segera menepuk keningnya sambil berujar, “Ya ampun, lo ini…” Gelak tawa kecil mulai bergema dari beberapa tamu yang ikut bersorak, “Cium! Cium!” Suasana yang tadinya khidmat berubah menjadi riuh dan penuh canda tawa. Akira langsung menundukkan kepala, pipinya merah merona, bisikannya terdengar malu, “Lintang…” Arka menghela napas pendek, sudut bibirnya terangkat dalam senyuman kecil. “Ini salah satu risiko punya teman seperti
Read more