Siang di kampung kali ini terasa berbeda, lebih panas dari biasanya, tapi bukan dari teriknya matahari. Arka duduk terpaku di ruang tamu, tangannya terus memegang ponsel yang bergetar tanpa henti. Notifikasi masuk seperti gelombang tak berujung, layar ponsel nyaris tak pernah gelap. Di sampingnya, Akira menunduk, matanya menyapu setiap komentar satu per satu, bibirnya bergerak pelan seolah membaca mantra. “Ini… mulai banyak yang percaya,” gumamnya lirih, suara penuh harap sekaligus ragu. Arka menganggukkan kepala, menatap layar dengan ekspresi sulit ditebak. “Iya. Tapi belum semua,” jawabnya singkat, napasnya tertahan seperti menahan gelombang badai. Akira menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Di dunia yang seperti ini, dia tahu, kebenaran tak selalu menang dalam sekejap. Rasanya seperti berjuang melawan angin yang tak terlihat tapi sangat kuat. *** Di sudut lain kota, Aluna berdiri membeku di depan jendela kamarnya. Matanya terpaku pada layar ponsel yang
Read more