Malam itu, setelah suara rekaman itu terkirim, Akira menatap ponsel di tangannya. Arka menunggu di sampingnya, siap mengantar pulang seperti biasa. Namun Akira menggeleng pelan, suaranya serak saat berkata, "Aku mau sendiri dulu." Arka hanya mengangguk, tak berkata apa-apa. "Aku tunggu di sini," ujarnya singkat. Kalimat itu malah membuat dada Akira sesak. Ia menghela napas panjang, pandangannya menatap kosong ke lantai, berharap beban di hatinya lekas hilang meski tahu itu mustahil. *** Akira duduk terlentang di lantai kamar kosnya, punggung bersandar keras pada sisi ranjang. Lampu sengaja dimatikan, hanya cahaya redup dari layar ponselnya yang menerangi wajah pucat itu. Jarinya menekan tombol putar ulang, audio yang sama berkali-kali diperdengarkan. Suara Arka terdengar tegas, tanpa ragu, “Kalau memang harus nikah demi keluarga, aku nggak masalah.” Klik. Hening. Tidak ada tawa, tidak ada kelanjutan, hanya kalimat itu saja yang mengisi ruang hampa di telinganya. A
Read more