Ruang sidang terasa hening, hanya suara langkah hakim yang menggema di antara deretan kursi kayu. Aluna berdiri tegak di depan meja terdakwa, wajahnya yang dulu penuh semangat kini berubah menjadi topeng kosong tanpa ekspresi. Matanya menatap lurus ke depan, seolah menolak untuk menangkap setiap kata yang keluar dari mulut hakim. "Aluna, Anda dinyatakan bersalah atas penculikan berencana, manipulasi data, dan pencemaran nama baik," suara hakim tegas namun dingin, menembus keheningan yang menyesakkan. Detik-detik itu seperti berjalan lambat, menahan nafas seluruh hadirin yang menyaksikan. Tak ada lagi senyum tipis yang dulu sering menghiasi bibir Aluna saat menghadapi masalah. Tidak ada perlawanan, hanya ketenangan yang terasa membeku, seperti seseorang yang telah menyerah pada nasibnya sendiri. Tangan Aluna menggenggam erat, namun tubuhnya tetap diam, menahan segala rasa yang mungkin berkecamuk di dalam. Di antara kerumunan, beberapa orang menahan napas, ada yang menatap iba, tapi
Baca selengkapnya