Pagi itu, Akira membuka mata dengan dada ringan, seolah ada sesuatu yang membuat hatinya lega. Cahaya matahari merayap masuk lewat sela tirai kos, memantul di cincin di jarinya hingga berkilau lembut. Senyum kecil terukir di bibirnya tanpa sadar. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sekali, dua kali, sampai puluhan kali bertubi-tubi. "Kenapa rame banget sih?" gumamnya setengah menguap sambil mengusap wajah lelah, lalu membuka layar. Notifikasi terus berdatangan, Naya menelpon 27 kali, Lintang mengirim 13 voice note, dan grup “Pejuang Tanggal Tua” penuh dengan 98 pesan belum dibaca. Alis Akira mengernyit, pikirannya campur aduk. Baru saja ia membuka chat Naya, telepon langsung berdering lagi. “Apa?!” jawabnya spontan, suaranya naik setengah nada. Di seberang sana, suara Naya berteriak penuh semangat, “KAMU DILAMAR DAN NGGAK BILANG-BILANG?!” Akira mendongak, matanya melebar. Ia menjauhkan ponsel dari telinga, belum bisa berkata apa-apa. Di latar belakang, terdengar suara Linta
Terakhir Diperbarui : 2026-02-19 Baca selengkapnya