Keheningan malam itu menggelayut di kamar, bukan sunyi kosong yang biasa, tapi berat, penuh oleh sesuatu yang tak kasat mata namun menggumpal di dada Akira. Ia berdiri kaku di dekat tempat tidur, napasnya tiba-tiba terasa tercekat, jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tapi semacam gelisah yang tak bisa ia jelaskan. Arka berdiri tak jauh darinya, menatap dalam diam. Matanya lembut, tanpa kata, seperti sengaja menahan diri agar Akira tak makin gugup. Beberapa detik melintas hanya dengan irama napas yang beradu di ruang sunyi. “Mas…” suara Akira bergetar, nyaris bisikan. Arka mengangkat wajah, menatapnya penuh perhatian. “Hm?” jawabnya pendek. Namun Akira masih terpaku, matanya tidak beranjak, seolah ingin memastikan sesuatu yang terpendam jauh di dalam hati. Perlahan, Akira melangkah mendekat. Satu langkah, lalu satu lagi. Jarak mereka berkurang, tinggal beberapa inci saja. Arka tetap diam, matanya tajam mengikuti tiap gerak gerik Akira. Wajahnya tenang, s
Read more