Kerumunan mulai bergerak dinamis, suara tawa dan obrolan memenuhi udara, menciptakan suasana riuh yang hangat. Orang-orang berlalu-lalang dengan semangat, menikmati momen yang baru saja berlalu dari atas panggung. Namun, bagi Akira, kebisingan itu seolah menjadi latar yang jauh, seperti gelombang yang tidak sampai ke telinganya. Ia duduk dengan tenang di kursi yang disediakan, punggungnya tegak namun bahunya tampak sedikit menurun. Tangan kanannya menggenggam lengan kursi, dingin menyelinap dari ujung jarinya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi yang berlebihan, namun ada keheningan yang menyesakkan di balik tatapannya. Di sebelahnya, Arka duduk tanpa suara, dekat sekali. Kehadiran tanpa kata itu malah menjadi penopang yang tak terlihat bagi Akira. Sesekali, Arka menoleh dan menatap mata Akira, memberi isyarat bahwa dia ada, dan dia peduli. “Sayang, kamu oke?” suara Arka lirih, penuh perhatian dan lembut, seolah takut mengganggu kesunyian yang sedang melingkupi Akira. Akira men
Read More