Pagi merayap masuk pelan lewat celah tirai kamar hotel. Cahaya hangat menerpa lantai, menciptakan suasana yang tenang, seolah semua akan berjalan biasa saja. Tapi tiba-tiba, suara kecil pecah, “Aduuhh…” Akira terbangun dan duduk di tepi ranjang, wajahnya mengerut penuh sakit. Tangannya otomatis memegang pinggang, dipijit pelan. “Pinggang gue... rasanya kayak mau copot,” keluhnya, suaranya hampir berbisik. Dia mencoba berdiri, tapi langsung berhenti, meringis lagi. Matanya melirik ke arah ranjang, di mana Arka masih terlelap, napasnya tenang seperti tak punya beban. Akira menghela napas, ada sedikit iri yang tak tersampaikan. Akira menyipitkan mata, alisnya mengerut menahan kesal. “Gara-gara pak dosen…” gumamnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar, “badan berasa remuk semua.” Bahunya yang biasanya tegap tampak sedikit membungkuk, tanda lelah yang ia rasakan sejak semalam. Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah perlahan. Senyum kecil merekah di bibirnya, m
Baca selengkapnya