Arthur menyadari saat ini tubuhnya masih polos. Dengan sedikit terburu-buru, ia mengambil celana yang tergeletak di lantai, mengenakannya sambil sesekali melirik ke arah Rose untuk memastikan gadis itu tidak terbangun.Ia meraih ponselnya, lalu melangkah menuju balkon pelan-pelan.Begitu pintu geser balkon ditutup, udara luar langsung menyapa tubuhnya. Dingin, segar, dan kontras sekali dengan suhu hangat di dalam kamar. Lampu-lampu Puncak berkelip di kejauhan, seperti hamparan kunang-kunang yang menjejali lembah.Arthur menghembuskan napas, lalu menekan nomor Agam.Sambungan tersambung dalam dua dering.“Tuan Arthur,” suara Agam langsung terdengar seolah pria itu memang menunggu panggilan darinya.Arthur menatap langit malam. “Jelaskan semuanya, Gam.”Pria itu bisa mendengar suara helaan napas Agam hingga membuat Arthur sedikit tegang. “Lima tahun lalu… kecelakaan Rio itu bukan kecelakaan biasa, Tuan. Itu disengaja oleh seseorang yang menginginkan Rio.”Arthur memejamkan mata. Meskipu
Dernière mise à jour : 2025-12-06 Read More