Daffa berjalan cepat menyusuri jalanan yang basah, mengenakan jas hitamnya yang kini terlihat kusut dan berdebu.Ia akhirnya tiba di pasar tradisional yang ramai. Suara tawar-menawar, teriakan pedagang, dan gesekan sandal beradu dengan lantunan dangdut dari warung kopi.Daffa sontak berhenti, hidungnya mengerut tajam. Ia menutup hidung dengan punggung tangannya, jijik terhadap bau amis ikan yang bercampur dengan aroma terasi dan bau kotoran. Seumur hidupnya, ia hanya mengenal aroma parfum mahal, leather mobil, dan AC ruangan.“Ya Tuhan, tempat apa ini?” bisik Daffa pada dirinya sendiri.Ia membuka telapak tangannya. Di sana, terlipat uang tunai yang lusuh sebesar 35 ribu. Uang itu terasa menyedihkan, tidak lebih dari biaya parkir mobilnya dulu.Daffa mengingat daftar belanja Wilona. Wanita itu menitip tahu, tempe, kangkung, dan susu bayi.Ia mendekati pedagang sayur. "Kangkung... satu ikat berapa, Bu?" tanyanya, suaranya dipaksakan pelan."Lima ribu, Mas. Mau berapa?"Daffa menghitung
Last Updated : 2025-12-03 Read more