Wilona masih terpaku melihat tubuh yang terkapar itu adalah suaminya sendiri. Ia menjatuhkan lututnya, menarik tubuh Daffa yang bersimbah darah ke dalam pangkuannya.Napas Daffa terdengar pendek dan berat."Daffa… k-kenapa… kenapa kau lakukan ini?!" tangis Wilona pecah seketika. Ia menekan luka di dada Daffa, mencoba menahan aliran darah yang tak mau berhenti. "Maafkan aku... aku tidak bermaksud... Daffa!"Daffa menatap Wilona dengan mata yang mulai sayu. Tangannya yang lemah berusaha meraih wajah istrinya, meninggalkan jejak merah di pipi Wilona. Tidak ada kemarahan di mata itu, hanya ada rasa sakit dan perlindungan terakhir."Pergi… pergi, Wilona. Bawa Arkana… kabur sejauh mungkin,” bisik Daffa dengan sisa kekuatannya, sebelum matanya perlahan menutup dan tangannya terkulai jatuh ke lantai.Wilona makin panik tatkala mata Daffa tertutup. “Daffa, bangun! Bercandamu gak lucu, Daf! Bangun!!” jeritnya histeris.Tak lama kemudian, rombongan polisi datang menembus kerumunan pesta yang heb
Read more