Início / Romansa / Ibu Kost yang menggoda / Labirin yang Mengingat

Compartilhar

Labirin yang Mengingat

last update Data de publicação: 2025-12-11 17:54:13

Ravika terjatuh tanpa gravitasi, tanpa arah, tanpa janji kalau akhir dari jatuh itu bakal landai. Ruang kosong di sekelilingnya bukan hitam—lebih ke warna abu-abu yang kesepian, seperti tinta yang lupa tujuan mau menggambar apa.

Lalu jatuh itu… berhenti.

Secara mendadak. Tanpa permisi. Kayak loading screen yang skip sendiri.

Ia berdiri di sebuah koridor panjang—bukan batu, bukan metal—lebih kayak struktur yang dibangun dari ingatan yang dipadatkan. Dindingnya berubah-ubah, kadang tekstur kayu m
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ibu Kost yang menggoda   Mulai Terlihat Seperti Rumah

    Pagi itu kos terasa lebih hidup dari biasanya. Beberapa penghuni sudah berkumpul di dapur sejak pagi. Ada yang rebutan air panas. Ada yang sibuk nyari sendok. Dan seperti biasa— Bima paling berisik sendiri. “SIAPA YANG NGABISIN SAMBAL GUE?!” “Lo makan sendiri semalem!” sahut seseorang dari ruang tengah. Ravika yang baru keluar kamar langsung tertawa kecil. Suasana seperti itu sudah jadi hal biasa baginya. Ramai. Berantakan. Tapi hangat. Ia berjalan ke dapur sambil mengikat rambut. Dan refleks— matanya langsung mencari Arven. Cowok itu sedang berdiri di dekat kompor. Memasak mie sambil setengah melayani ocehan Bima. “Kalau mie direbus terlalu lama tuh lembek!” protes Bima. Arven menjawab santai, “Ya jangan hidup terlalu keras.” Orang-orang langsung tertawa. Ravika ikut tersenyum kecil. Dan anehnya— pemandangan itu terasa nyaman sekali. “Pagi,” kata Arven saat melihatnya. “Pagi.” Nada suara mereka biasa saja. Tidak lebay. Tidak malu-malu lagi. Tapi sekaran

  • Ibu Kost yang menggoda   Hal Sederhana yang Mulai Dirindukan

    Pagi itu Ravika terbangun sedikit lebih lambat dari biasanya. Ia mengerjap pelan sambil meraih ponselnya di samping bantal. Sunyi. Tidak ada suara dari luar kamar karena sebagian penghuni masih tidur. Ia membuka layar ponsel. Dan refleks— matanya langsung mencari satu nama. Arven Tidak ada pesan baru. Ravika diam beberapa detik. Lalu mengernyit kecil. “Tumben.” Biasanya selalu ada pesan pagi. Sesederhana: Pagi. atau Jangan lupa makan. Hal kecil. Tapi ternyata— ia sudah mulai terbiasa menunggunya. Ravika bangun sambil masih memikirkan itu. “Paling masih tidur.” Ia mencoba santai. Tapi tetap saja— ada rasa aneh kecil. Ia bersiap seperti biasa. Lalu keluar kamar. Lorong masih cukup sepi pagi itu. Saat berjalan ke dapur— ia baru sadar satu hal. Tidak ada kopi. Ravika berhenti. Menatap meja dapur kosong. Biasanya Arven sudah lebih dulu bangun dan membuat kopi. Tapi hari itu— tidak ada. Dan anehnya— suasana terasa berbeda. Lebih sepi. “Dia ke mana sih

  • Ibu Kost yang menggoda   Cara Baru Untuk Saling Mengerti

    Pagi itu terasa lebih tenang. Bukan karena masalah sudah hilang. Tapi karena semalam— mereka memilih menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Ravika bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Ia masih ingat jelas pertengkaran kecil kemarin. Nada bicaranya. Wajah Arven yang mendadak diam. Suasana canggung sepanjang siang. Dan jujur saja— ia tidak suka itu. Bukan karena marahnya. Tapi karena ia sadar satu hal: ia sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Arven. Ravika duduk di tepi kasur sambil menghela napas kecil. “Pacaran ternyata capek juga ya…” Ia tertawa kecil sendiri. “Tapi… worth it.” Ia bangun dan bersiap seperti biasa. Hari itu suasana kos sudah mulai ramai sejak pagi. Beberapa penghuni tertawa di lorong. Ada yang buru-buru berangkat kerja. Ada juga yang baru bangun dengan muka kusut. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti biasa— kopi sudah ada. Ia tersenyum kecil. Mengambil dua gelas. Tangannya bergerak santai sekarang. Tidak malu lagi. Tidak salah tin

  • Ibu Kost yang menggoda   Pertengkaran Kecil Pertama

    Pagi itu suasana kos kembali ramai. Hujan semalam membuat udara masih dingin, tapi aktivitas sudah mulai berjalan seperti biasa. Suara motor keluar masuk. Orang-orang mondar-mandir di lorong. Dan dapur mulai penuh sejak pagi. Ravika berjalan sambil membawa catatan pengeluaran kos. Wajahnya terlihat sedikit serius hari itu. Sejak semalam ada beberapa hal yang harus ia urus. Tagihan air. Pipa bocor di lantai dua. Dan satu penghuni yang belum bayar dua bulan. Kepalanya cukup penuh. Saat masuk dapur— Arven sedang berdiri di dekat meja. Membuat kopi. “Pagi,” kata Arven sambil menoleh. “Pagi.” Ravika membalas singkat. Nada suaranya lebih datar dari biasanya. Arven sedikit memperhatikan. “Tadi tidur telat?” Ravika mengangguk kecil. “Iya.” Arven mendekat sedikit. “Mau aku bantu nanti?” Biasanya Ravika akan langsung jawab santai. Tapi pagi itu— entah kenapa ia sedang sensitif. “Nggak usah.” Jawabannya cepat. Arven diam sebentar. “Oke.” Ravika langsung sadar nad

  • Ibu Kost yang menggoda   Nyaman yang Tidak Perlu Dibuktikan

    Pagi itu datang dengan langit yang sedikit mendung. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa penghuni kos masih malas keluar kamar. Lorong pun lebih sepi. Ravika bangun perlahan. Masih setengah mengantuk. Ia meraih ponsel di samping bantal. Dan lagi-lagi— ada pesan dari Arven. Arven Dingin. Jangan lupa sarapan. Ravika langsung tersenyum kecil. “Ini cowok sederhana banget…” Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa hangat. Ia membalas singkat. Iya cerewet. Tak lama kemudian balasan masuk. Khawatir. Ravika langsung mematung beberapa detik. Lalu menutup wajahnya dengan bantal lagi. “Ya ampun…” Ia tertawa kecil sendiri. Hal sederhana seperti itu— dulu mungkin biasa saja. Tapi sekarang— semuanya terasa lebih dalam. Ravika bangun dan bersiap. Hari itu suasana kos cukup tenang. Beberapa penghuni masih tidur karena cuaca dingin. Saat keluar kamar, aroma hujan mulai terasa dari luar. Langit semakin gelap. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti biasa—

  • Ibu Kost yang menggoda   Kata “Pacar” yang Masih Terasa Baru

    Pagi itu Ravika bangun dengan suara alarm yang sama. Nada yang sama. Kamar yang sama. Langit-langit yang sama. Tapi tetap saja— hidup terasa sedikit berbeda. Ia meraih ponselnya dengan mata masih setengah tertutup. Lalu berhenti. Ada satu notifikasi baru. Arven Pagi. Ravika langsung diam. Beberapa detik. Lalu perlahan— senyum muncul begitu saja. “Ya ampun…” Ia menutup wajah dengan bantal. “Baru chat pagi doang…” Tapi jantungnya sudah bereaksi aneh lagi. Ia membalas cepat. Pagi juga. Setelah terkirim— ia langsung menatap layar lagi. “…gue sekarang punya orang buat dikabarin ya.” Dan entah kenapa— pikiran sederhana itu membuat dadanya hangat. Ravika bangun. Bersiap seperti biasa. Tapi pagi ini ia beberapa kali tersenyum sendiri tanpa alasan jelas. Saat bercermin— ia bahkan memandangi dirinya sendiri cukup lama. “Pacaran ternyata bikin orang aneh ya.” Ia tertawa kecil. Saat keluar kamar, lorong kos sudah ramai. Beberapa penghuni lewat sambil menyapa. R

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status