LOGINPagi itu berjalan seperti biasa.Atau setidaknya—Ravika berusaha menganggapnya biasa.Masalahnya, sejak kemarin Arven mulai memanggilnya "sayang".Dan sejak kemarin pula hidup Ravika tidak lagi damai.Ia sedang menyapu halaman depan kos ketika suara langkah kaki mendekat dari belakang."Selamat pagi."Ravika refleks menoleh.Arven berdiri sambil membawa dua gelas kopi."Ini buat kamu."Ravika menerima gelas itu."Makasih."Arven tersenyum kecil."Pagi, sayang."Ravika langsung memejamkan mata."Nah kan.""Apa?" tanya Arven polos."Lo sengaja."Arven tertawa pelan.Sedangkan Ravika hanya bisa menggeleng pasrah.Tak jauh dari sana—Bima yang sedang menyiram tanaman langsung bertepuk tangan."Bagus! Lanjutkan!""BIMA!""Maaf, saya hanya penikmat drama romantis.""Pergi sana."Bima tertawa lalu benar-benar pergi.Masih sambil bersiul.Ravika menghela napas."Temen kita makin aneh.""Makin?" tanya Arven.Mereka berdua langsung tertawa.Setelah pekerjaan pagi selesai, suasana kos mulai leb
Pagi itu Ravika bangun dengan suasana hati yang cukup ringan.Semalam setelah obrolan soal cemburu, hubungannya dengan Arven justru terasa semakin dekat.Bukan karena ada perubahan besar.Tapi karena mereka mulai saling memahami sisi-sisi kecil yang sebelumnya belum terlihat.Ravika duduk di tepi kasur sambil membuka ponsel.Dan seperti biasa—ada pesan dari Arven.ArvenBangun. Nanti telat sarapan.Ravika tersenyum kecil.Jarinyanya mulai mengetik cepat.Iya bawel.Tak lama kemudian balasan masuk.Biar sehat, sayang.Sunyi.Ravika langsung membeku.Matanya membaca ulang pesan itu.Sekali.Dua kali.Tiga kali.“…hah?”Jantungnya langsung berdetak tidak karuan.Ia duduk diam sambil memegang ponsel.Pipi mulai terasa panas.“Dia ngetik apa barusan…”sayangSelama mereka pacaran—Arven memang sering bicara manis.Sering perhatian.Sering membuat Ravika salah tingkah.Tapi belum pernah—memanggilnya seperti itu.Dan efeknya ternyata separah ini.Ravika langsung menjatuhkan tubuh ke kasur
Pagi itu suasana kos cukup ramai.Ada beberapa penghuni baru yang datang untuk survei kamar, jadi sejak pagi Ravika sudah sibuk mondar-mandir.Mulai dari menunjukkan kamar kosong.Menjelaskan aturan kos.Sampai menjawab pertanyaan yang itu-itu lagi.Arven juga ikut membantu seperti biasa.Kadang membawa barang.Kadang membantu menjelaskan fasilitas.Dan seperti biasanya—mereka bekerja dengan ritme yang sudah cocok tanpa perlu banyak bicara.“Ventilasinya bagus nggak, Kak?” tanya seorang calon penghuni perempuan.Ravika baru ingin menjawab—tapi Arven lebih dulu bicara.“Bagus kok. Sore juga nggak terlalu panas.”Cewek itu langsung tersenyum.“Oh iya? Mas tinggal di sini juga?”“Iya.”“Wah enak ya kalau ada yang bantu ngurus.”Arven tertawa kecil.“Lumayan.”Ravika yang berdiri tidak jauh dari sana mendadak diam.Entah kenapa—ia memperhatikan cara cewek itu bicara.Cara ia tersenyum ke Arven.Cara ia terus melanjutkan obrolan meski penjelasannya sebenarnya sudah selesai.Dan yang pal
Pagi itu kos terasa lebih hidup dari biasanya. Beberapa penghuni sudah berkumpul di dapur sejak pagi. Ada yang rebutan air panas. Ada yang sibuk nyari sendok. Dan seperti biasa— Bima paling berisik sendiri. “SIAPA YANG NGABISIN SAMBAL GUE?!” “Lo makan sendiri semalem!” sahut seseorang dari ruang tengah. Ravika yang baru keluar kamar langsung tertawa kecil. Suasana seperti itu sudah jadi hal biasa baginya. Ramai. Berantakan. Tapi hangat. Ia berjalan ke dapur sambil mengikat rambut. Dan refleks— matanya langsung mencari Arven. Cowok itu sedang berdiri di dekat kompor. Memasak mie sambil setengah melayani ocehan Bima. “Kalau mie direbus terlalu lama tuh lembek!” protes Bima. Arven menjawab santai, “Ya jangan hidup terlalu keras.” Orang-orang langsung tertawa. Ravika ikut tersenyum kecil. Dan anehnya— pemandangan itu terasa nyaman sekali. “Pagi,” kata Arven saat melihatnya. “Pagi.” Nada suara mereka biasa saja. Tidak lebay. Tidak malu-malu lagi. Tapi sekaran
Pagi itu Ravika terbangun sedikit lebih lambat dari biasanya. Ia mengerjap pelan sambil meraih ponselnya di samping bantal. Sunyi. Tidak ada suara dari luar kamar karena sebagian penghuni masih tidur. Ia membuka layar ponsel. Dan refleks— matanya langsung mencari satu nama. Arven Tidak ada pesan baru. Ravika diam beberapa detik. Lalu mengernyit kecil. “Tumben.” Biasanya selalu ada pesan pagi. Sesederhana: Pagi. atau Jangan lupa makan. Hal kecil. Tapi ternyata— ia sudah mulai terbiasa menunggunya. Ravika bangun sambil masih memikirkan itu. “Paling masih tidur.” Ia mencoba santai. Tapi tetap saja— ada rasa aneh kecil. Ia bersiap seperti biasa. Lalu keluar kamar. Lorong masih cukup sepi pagi itu. Saat berjalan ke dapur— ia baru sadar satu hal. Tidak ada kopi. Ravika berhenti. Menatap meja dapur kosong. Biasanya Arven sudah lebih dulu bangun dan membuat kopi. Tapi hari itu— tidak ada. Dan anehnya— suasana terasa berbeda. Lebih sepi. “Dia ke mana sih
Pagi itu terasa lebih tenang. Bukan karena masalah sudah hilang. Tapi karena semalam— mereka memilih menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Ravika bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Ia masih ingat jelas pertengkaran kecil kemarin. Nada bicaranya. Wajah Arven yang mendadak diam. Suasana canggung sepanjang siang. Dan jujur saja— ia tidak suka itu. Bukan karena marahnya. Tapi karena ia sadar satu hal: ia sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Arven. Ravika duduk di tepi kasur sambil menghela napas kecil. “Pacaran ternyata capek juga ya…” Ia tertawa kecil sendiri. “Tapi… worth it.” Ia bangun dan bersiap seperti biasa. Hari itu suasana kos sudah mulai ramai sejak pagi. Beberapa penghuni tertawa di lorong. Ada yang buru-buru berangkat kerja. Ada juga yang baru bangun dengan muka kusut. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti biasa— kopi sudah ada. Ia tersenyum kecil. Mengambil dua gelas. Tangannya bergerak santai sekarang. Tidak malu lagi. Tidak salah tin







