Beranda / Romansa / Ibu Kost yang menggoda / Labirin yang Mengingat

Share

Labirin yang Mengingat

last update Tanggal publikasi: 2025-12-11 17:54:13

Ravika terjatuh tanpa gravitasi, tanpa arah, tanpa janji kalau akhir dari jatuh itu bakal landai. Ruang kosong di sekelilingnya bukan hitam—lebih ke warna abu-abu yang kesepian, seperti tinta yang lupa tujuan mau menggambar apa.

Lalu jatuh itu… berhenti.

Secara mendadak. Tanpa permisi. Kayak loading screen yang skip sendiri.

Ia berdiri di sebuah koridor panjang—bukan batu, bukan metal—lebih kayak struktur yang dibangun dari ingatan yang dipadatkan. Dindingnya berubah-ubah, kadang tekstur kayu m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ibu Kost yang menggoda   Hal Sederhana yang Mulai Dirindukan

    Pagi itu Ravika terbangun sedikit lebih lambat dari biasanya. Ia mengerjap pelan sambil meraih ponselnya di samping bantal. Sunyi. Tidak ada suara dari luar kamar karena sebagian penghuni masih tidur. Ia membuka layar ponsel. Dan refleks— matanya langsung mencari satu nama. Arven Tidak ada pesan baru. Ravika diam beberapa detik. Lalu mengernyit kecil. “Tumben.” Biasanya selalu ada pesan pagi. Sesederhana: Pagi. atau Jangan lupa makan. Hal kecil. Tapi ternyata— ia sudah mulai terbiasa menunggunya. Ravika bangun sambil masih memikirkan itu. “Paling masih tidur.” Ia mencoba santai. Tapi tetap saja— ada rasa aneh kecil. Ia bersiap seperti biasa. Lalu keluar kamar. Lorong masih cukup sepi pagi itu. Saat berjalan ke dapur— ia baru sadar satu hal. Tidak ada kopi. Ravika berhenti. Menatap meja dapur kosong. Biasanya Arven sudah lebih dulu bangun dan membuat kopi. Tapi hari itu— tidak ada. Dan anehnya— suasana terasa berbeda. Lebih sepi. “Dia ke mana sih

  • Ibu Kost yang menggoda   Cara Baru Untuk Saling Mengerti

    Pagi itu terasa lebih tenang. Bukan karena masalah sudah hilang. Tapi karena semalam— mereka memilih menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Ravika bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Ia masih ingat jelas pertengkaran kecil kemarin. Nada bicaranya. Wajah Arven yang mendadak diam. Suasana canggung sepanjang siang. Dan jujur saja— ia tidak suka itu. Bukan karena marahnya. Tapi karena ia sadar satu hal: ia sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Arven. Ravika duduk di tepi kasur sambil menghela napas kecil. “Pacaran ternyata capek juga ya…” Ia tertawa kecil sendiri. “Tapi… worth it.” Ia bangun dan bersiap seperti biasa. Hari itu suasana kos sudah mulai ramai sejak pagi. Beberapa penghuni tertawa di lorong. Ada yang buru-buru berangkat kerja. Ada juga yang baru bangun dengan muka kusut. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti biasa— kopi sudah ada. Ia tersenyum kecil. Mengambil dua gelas. Tangannya bergerak santai sekarang. Tidak malu lagi. Tidak salah tin

  • Ibu Kost yang menggoda   Pertengkaran Kecil Pertama

    Pagi itu suasana kos kembali ramai. Hujan semalam membuat udara masih dingin, tapi aktivitas sudah mulai berjalan seperti biasa. Suara motor keluar masuk. Orang-orang mondar-mandir di lorong. Dan dapur mulai penuh sejak pagi. Ravika berjalan sambil membawa catatan pengeluaran kos. Wajahnya terlihat sedikit serius hari itu. Sejak semalam ada beberapa hal yang harus ia urus. Tagihan air. Pipa bocor di lantai dua. Dan satu penghuni yang belum bayar dua bulan. Kepalanya cukup penuh. Saat masuk dapur— Arven sedang berdiri di dekat meja. Membuat kopi. “Pagi,” kata Arven sambil menoleh. “Pagi.” Ravika membalas singkat. Nada suaranya lebih datar dari biasanya. Arven sedikit memperhatikan. “Tadi tidur telat?” Ravika mengangguk kecil. “Iya.” Arven mendekat sedikit. “Mau aku bantu nanti?” Biasanya Ravika akan langsung jawab santai. Tapi pagi itu— entah kenapa ia sedang sensitif. “Nggak usah.” Jawabannya cepat. Arven diam sebentar. “Oke.” Ravika langsung sadar nad

  • Ibu Kost yang menggoda   Nyaman yang Tidak Perlu Dibuktikan

    Pagi itu datang dengan langit yang sedikit mendung. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa penghuni kos masih malas keluar kamar. Lorong pun lebih sepi. Ravika bangun perlahan. Masih setengah mengantuk. Ia meraih ponsel di samping bantal. Dan lagi-lagi— ada pesan dari Arven. Arven Dingin. Jangan lupa sarapan. Ravika langsung tersenyum kecil. “Ini cowok sederhana banget…” Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa hangat. Ia membalas singkat. Iya cerewet. Tak lama kemudian balasan masuk. Khawatir. Ravika langsung mematung beberapa detik. Lalu menutup wajahnya dengan bantal lagi. “Ya ampun…” Ia tertawa kecil sendiri. Hal sederhana seperti itu— dulu mungkin biasa saja. Tapi sekarang— semuanya terasa lebih dalam. Ravika bangun dan bersiap. Hari itu suasana kos cukup tenang. Beberapa penghuni masih tidur karena cuaca dingin. Saat keluar kamar, aroma hujan mulai terasa dari luar. Langit semakin gelap. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti biasa—

  • Ibu Kost yang menggoda   Kata “Pacar” yang Masih Terasa Baru

    Pagi itu Ravika bangun dengan suara alarm yang sama. Nada yang sama. Kamar yang sama. Langit-langit yang sama. Tapi tetap saja— hidup terasa sedikit berbeda. Ia meraih ponselnya dengan mata masih setengah tertutup. Lalu berhenti. Ada satu notifikasi baru. Arven Pagi. Ravika langsung diam. Beberapa detik. Lalu perlahan— senyum muncul begitu saja. “Ya ampun…” Ia menutup wajah dengan bantal. “Baru chat pagi doang…” Tapi jantungnya sudah bereaksi aneh lagi. Ia membalas cepat. Pagi juga. Setelah terkirim— ia langsung menatap layar lagi. “…gue sekarang punya orang buat dikabarin ya.” Dan entah kenapa— pikiran sederhana itu membuat dadanya hangat. Ravika bangun. Bersiap seperti biasa. Tapi pagi ini ia beberapa kali tersenyum sendiri tanpa alasan jelas. Saat bercermin— ia bahkan memandangi dirinya sendiri cukup lama. “Pacaran ternyata bikin orang aneh ya.” Ia tertawa kecil. Saat keluar kamar, lorong kos sudah ramai. Beberapa penghuni lewat sambil menyapa. R

  • Ibu Kost yang menggoda   Hal Kecil yang Sekarang Berbeda

    Pagi itu datang dengan suasana yang masih sama. Udara sejuk. Lorong kos mulai ramai. Suara pintu dibuka dan langkah kaki terdengar seperti biasa. Tidak ada perubahan besar di dunia. Tapi bagi Ravika— semuanya terasa sedikit berbeda. Ia bangun sambil menatap langit-langit kamar beberapa detik. Lalu tersenyum sendiri lagi. “Bahaya nih…” Ia menutup wajahnya dengan bantal. “Baru sehari.” Semalam ia tidur sambil terus kepikiran satu hal— Arven sekarang benar-benar pacarnya. Bukan lagi seseorang yang “hampir”. Bukan lagi hubungan yang menggantung. Dan anehnya— justru setelah resmi, Ravika jadi lebih malu. Ia bangun. Bersiap seperti biasa. Tapi hari ini ia beberapa kali salah fokus sendiri. Salah pakai sisir. Lupa naruh handuk. Bahkan sempat bengong di depan cermin. “Lo kenapa sih, Rav…” Ia menghela napas sambil tertawa kecil. Saat keluar kamar, suasana kos sudah mulai hidup. Beberapa penghuni menyapa. Ravika membalas seperti biasa. Tapi senyum di wajahnya hari

  • Ibu Kost yang menggoda   Jeratan Bayangan

    Asap masih bergulung di ruangan yang porak-poranda akibat ledakan. Bau mesiu bercampur debu semen menyesakkan dada. Pecahan kaca berkilauan di lantai, memantulkan cahaya lampu lorong yang redup. Dinding retak, sebagian pintu terlepas dari engselnya.Arven merasakan telinganya masih berdenging. Ia b

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Ibu Kost yang menggoda   Percakapannya yang Terlampau

    Malam itu kos sudah mulai sepi. Sebagian penghuni masuk ke kamar masing-masing. Beberapa lampu di lorong masih menyala, memantulkan cahaya kuning redup di lantai keramik yang sedikit kusam. Ravika duduk di teras sambil memegang ponselnya, tapi sejak lima menit lalu layar itu tidak benar-benar ia

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Ibu Kost yang menggoda   Hari yang Berjalan Seperti Biasa

    Kabar itu ternyata menyebar lebih cepat dari yang Ravika kira. Bukan karena Bima sengaja berteriak ke seluruh penghuni kos. Justru sebaliknya, ia terlihat cukup berusaha menahan diri. Tapi di tempat kecil seperti kos itu, kabar sederhana bisa berpindah dari satu kamar ke kamar lain tanpa perlu di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Ibu Kost yang menggoda   Pagi yang Terlalu Ramai

    Pagi datang lebih cepat dari yang Ravika harapkan. Ia terbangun bukan karena alarm, tapi karena suara ribut dari lorong kos. Ada suara sandal diseret. Suara pintu kamar dibuka keras. Lalu suara Bima yang terdengar terlalu semangat untuk ukuran jam segini. “Bu Kooos!” Ravika menutup wajahnya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status