“Harusnya aku yang masak,” kata Aurora tidak enak hati.. “Tidak,” Rafael menoleh sambil tersenyum kecil. “Kamu sudah terlalu lelah, Aurora. Biarkan aku yang menyiapkan ini untukmu. Anggap saja ini balasan kecil karena kamu sudah berjuang begitu keras.” Aurora terdiam, hatinya bergetar. Kalimat sederhana itu menyentuh sisi rapuh dalam dirinya. Selama ini ia terbiasa menanggung beban sendirian, jarang ada yang benar-benar merawatnya seperti ini. “Ayo, cuci muka dulu. Sarapan sebentar lagi selesai,” ujar Rafael sambil menunjuk ke arah kamar mandi. Aurora menuruti ucapannya, melangkah pelan. Setelah beberapa menit, ia kembali dengan wajah lebih segar. Meja makan kini sudah tertata sederhana; ada telur dadar, roti panggang, sedikit sayur, dan teh hangat. “Silakan duduk,” Rafael menarik kursi untuknya, membuat Aurora sedikit tersipu. Mereka duduk berhadapan, suasana hening namun nyaman. Aurora mencicipi telur yang dibuat Rafael, lalu tertawa kecil. “Rasanya… unik.” Rafael mengangka
Last Updated : 2025-11-23 Read more