Lorong rumah sakit militer itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bau antiseptik menusuk hidung, namun jantung Meira berdegup terlalu kencang untuk sekadar memikirkan aroma ruangan.Langkahnya terhenti.Octavian.Pria itu berdiri di ujung lorong, posturnya tegap, matanya tajam seperti sedang membedah rahasia yang ia bawa. Meira menelan ludah. Sebagian dirinya ingin berbalik, lari, menghindar. Tapi ia tahu, semakin ia menghindar, semakin Octavian curiga.“Bukan urusanmu,” jawab Meira ketus, berusaha menutupi rasa panik yang menekan dadanya. Untungnya, turtleneck hitam yang ia pakai menutup semua jejak malam tadi—bekas ciuman, gigitan lembut Hastan—semuanya tersembunyi di balik kain.Octavian menatapnya lama, namun tidak menjawab.“Ada apa kamu kesini?” tanya Meira, nadanya dibuat sinis, seolah ia tak peduli. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah cepat menuju ruang server.Begitu pintu terbuka, suara riang langsung menyambutnya.“Mamaaa… kejutaaan!” teriak Dio, matanya berbinar.Meira te
Terakhir Diperbarui : 2025-08-10 Baca selengkapnya