Setelah Dio menutup teleponnya dengan suara putus yang pelan, suasana dalam mobil tiba-tiba terasa hening sejenak, hanya suara mesin dan dentingan jarum jam yang mengisi ruang sempit itu. Hastan menghela napas, lalu menatap ke arah Meira yang duduk di sampingnya. Matanya yang tajam menyembunyikan berjuta cerita yang tak mudah terucapkan. “Anakmu cerdas sekali, seperti ibunya,” ucap Hastan dengan nada dingin khas seorang militer, tapi di balik itu ada sesuatu yang lembut, seperti doa yang tersembunyi. Meira tersenyum, senyum kecil yang penuh rasa syukur. "Iya, thank God. Dia hadiah paling indah yang Tuhan titipkan buat aku," jawabnya dengan suara pelan namun penuh keyakinan. Seolah-olah kekuatan hidupnya hanya bertumpu pada sosok kecil yang kini menjadi seluruh dunianya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat menutupinya. Hastan mengangguk, dan tatapannya melunak sedikit. “And what about your husband?” tanyanya dengan suara berat, menyelipkan rasa penasaran yang sudah lama terpen
Terakhir Diperbarui : 2025-08-09 Baca selengkapnya