Pagi itu, udara kamar hotel masih menyimpan sisa dingin dari AC yang menyala semalaman. Meira duduk di tepi ranjang, ponselnya berada di genggaman, menunggu balasan dari Hansen yang sudah ia kirimi pesan sejak dini hari.Notifikasi akhirnya muncul.Hansen :[Bebas, selama Aira available dan direktur RS setuju]Meira menghela napas lega, seolah beban di dadanya sedikit terangkat. Bagus… ini jalan keluar. Tinggal membujuk Aira nanti, saat ia sudah sampai di Kota Selaras.Namun ketenangan singkat itu buyar ketika terdengar ketukan di pintu. Bukan satu atau dua kali, tapi tiga kali, teratur, tegas—cara mengetuk yang sangat ia kenal.Meira melangkah ke pintu, membukanya tanpa banyak pikir, dan di hadapannya berdiri sosok pria yang menjadi sumber separuh masalahnya: Hastan.Ia tidak menyambut dengan kata-kata. Tidak juga mengundang masuk dengan ramah. Meira hanya berbalik, meninggalkan pintu terbuka, dan melengos menuju meja makan.Di sana, Dio sudah duduk dengan semangkuk bubur, kakinya be
Terakhir Diperbarui : 2025-08-11 Baca selengkapnya