Bel apartemen berbunyi keras, memecah keheningan malam yang baru saja mulai menenangkan hati Meira. Ia baru saja selesai menidurkan Dio, dan masih bisa mendengar helaan napas kecil anak itu dari kamar. Tangannya refleks menahan dada, jantungnya berdetak cepat.Dengan langkah pelan ia mendekati pintu, mencoba menenangkan diri, namun perasaan was-was tak bisa ia kendalikan. Ketika pintu terbuka, tubuhnya seketika menegang.Octavian berdiri di sana. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang—kontras dengan badai yang langsung menyerbu benak Meira. Ada senyum tipis yang menggantung di bibirnya, senyum yang bagi orang lain tampak ramah, tapi di mata Meira terasa seperti ironi yang menusuk. Tangan kirinya menggenggam sebuah koper besar, hitam legam, yang membuat kehadirannya semakin menekan.“Meira.” Suaranya pelan tapi mantap, seolah ia telah menyiapkan kalimat ini berulang kali.“Aku pikir… mulai malam ini, aku akan tinggal di sini bersamamu.”Meira tertegun. Bibirnya bergetar, tapi kata-kata
Terakhir Diperbarui : 2025-08-27 Baca selengkapnya