Hastan menggeram rendah, suara itu bergema di dada bidangnya, lalu mengangkat salah satu kaki Meira tinggi hingga tubuh mungil itu terdorong ke dinding kaca yang dingin. Sensasi kontras membuat Meira tersentak—dinginnya kaca menusuk kulit, sementara panas tubuh Hastan membakar di sisi lain. Lembah kenikmatan Meira kini terbuka, terhampar tanpa perlindungan, tepat di hadapan batang Hastan yang tegang, berdenyut, seakan menuntut haknya. Mata Meira membesar, nafasnya terengah, tubuhnya bergetar antara menolak dan menyerah. Ketakutan masih menahan pikirannya, namun tubuhnya bereaksi berbeda—berkhianat pada logika. Genggaman Hastan di pinggangnya terlalu kuat, kokoh seperti borgol, tak memberinya kesempatan untuk lari. Refleks, tangan Meira meraih dan berpegangan erat pada bisep kekar pria itu, seolah hanya itu satu-satunya pegangan agar ia tak runtuh. “Tenang saja, Kitten…” bisik Hastan, suara parau dan dalam, bibirnya menyapu telinga Meira hingga membuatnya gemetar. “Aku akan pelan-pe
Terakhir Diperbarui : 2025-08-22 Baca selengkapnya