“Wah… jarang ada jawaban seperti itu,” komentarnya pelan. “Saya rasa, kamera pun menyukai kejujuran Anda berdua.” Tari menunduk sopan. “Saya dan Mas Radit berbincang, dan kami merasa bahwa kami masih sangat butuh bimbingan Bumi dan Sita.” Kalimat itu membuat studio kembali hening, sebelum akhirnya tepuk tangan terdengar lagi—lebih tulus, hangat, dan panjang. Host lalu berputar ke sisi lain sofa, tersenyum kepada dua tamu berikutnya. “Mbak Kinanti dan Mas Panca,” ujarnya, “kalian juga menuai banyak pujian. Bagaimana ceritanya bisa ikut bermain di film itu?” Kinanti spontan menoleh pada Panca. Panca mengangguk pelan, mempersilakannya menjawab. Kinanti tersenyum, lalu berkata, “Sama seperti Mas Radit dan Teh Tari. Kami sudah lama akrab dengan Kang Bumi dan Sita. Jadi waktu tiba-tiba diajak terlibat, ya… kami juga ikut kaget.” Ia tertawa sebentar sebelum melanjutkan, “Bahkan Kang Rio dan Teh Mutia, yang kemudian jadi produser, sama terkejutnya saat ditawari.” “Bagaimana tidak kaget,
Terakhir Diperbarui : 2025-12-15 Baca selengkapnya