“Kamu tidak boleh masuk, Pak. Pak Ardi sedang ada tamu,” ucap sekretaris Ardi dengan suara tegas sambil berdiri menghadang pintu.“Aku harus bertemu Pak Ardi sekarang. Ini penting,” balas Bima tanpa menurunkan nada suaranya. Tangannya sudah lebih dulu mendorong pintu.“Pak…!” sekretaris itu panik, berusaha menahan, namun tenaga Bima jauh lebih kuat.Bima tidak peduli lagi. Detik ini, yang ada di kepalanya hanya satu nama, Rania.Ia tidak peduli bila setelah ini ia dipecat, dimaki, atau diusir. Selama sepuluh tahun ia gagal melindungi wanita itu. Kali ini, ia tidak akan mundur.“Pak Ardi…!” teriak Bima begitu kakinya menginjak ruangan wakil direktur.Di dalam ruangan, suasana mendadak membeku.“Pak Ardi, maaf… saya tidak bisa menahannya,” ucap sang sekretaris terengah, wajahnya pucat karena panik.Ardi yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya menoleh tajam.“Tak apa. Keluarlah,” titahnya dingin.Sekretaris itu mengangguk cepat lalu menutup pintu dari luar, meninggalkan tiga orang
Last Updated : 2026-01-25 Read more