“Mbak, kamu kok ngomongnya begitu,” ucap Rini dengan nada dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya jelas menyimpan ketidaksenangan. “Niat kita kan baik, cuma ingin ngajakin kamu makan bareng.”Rania menggeleng cepat.“Kalian saja yang makan. Aku sudah makan di luar,” sahutnya ringan, sebuah kebohongan yang tak ingin ia luruskan.Bukan karena lapar atau tidak, tapi karena hatinya sudah muak. Duduk satu meja dengan orang-orang yang menyebut dirinya istri, namun merampas perannya, hanya akan membuat dadanya semakin sesak.Dulu… mungkin ia akan tersenyum lebar melihat Bima memasak. Dulu, ia akan merasa istimewa, seolah menjadi satu-satunya wanita yang diratukan. Dulu, aroma masakan suaminya adalah tanda pulang, tanda cinta.Tapi sekarang?Semua itu hanya kenangan yang menyakitkan jika diingat. Sebab tangan yang sama, pernah dengan sadar memilih wanita lain.Rini membelalakkan mata. “Kamu…”“Sudah, sudah. Kalian jangan ribut,” potong Bima cepat, berdiri di antara mereka.Ia menoleh pa
Last Updated : 2026-01-03 Read more