Damar menggeleng cepat, mencoba menenangkan istrinya. “Gak, Yang. Tapi, umur ‘kan gak ada yang tahu. Sampai kapan aku—”Cup!Diana bergerak cepat, meletakkan jari atau bibirnya di bibir Damar, memotong kalimat menakutkan itu.“Jangan berkata kaya gitu, Mas! Aku gak suka!” seru Diana. Suaranya tercekat oleh air mata yang terus berderai tanpa henti. “Kamu akan terus hidup sampai anak-anak kita dewasa. Jangan tinggalin aku, Mas. Aku gak mau sendiri lagi ....” Air matanya tumpah saat ia melanjutkan dengan nada sendu, mengingat kisah pilu beberapa tahun lalu, “Mengurus anak kita sendiri, sangat melelahkan. Kumohon, Mas. Jangan berkata lagi kaya gitu.”Diana memeluk suaminya dengan erat, ketakutan akan masa lalu dan masa depan menyatu menjadi satu.Damar membalas pelukan itu, mengelus rambut Diana. “Gak akan, Sayang. Aku di sini, sama kamu.”Keduanya kembali berpelukan singkat. Setelahnya, Damar mengurai pelukan dan teringat sesuatu.Damar mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Diana
Last Updated : 2025-12-09 Read more