“Aduh!” Raline meringis, tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu dengan kuat. Wajahnya yang semula ceria seketika berubah pucat pasi. “Raline, kamu kenapa?” tanya Diana sigap, mendekat dengan raut khawatir. “Gak tahu, Mbak. Kontraksi terus, ini kenceng banget,” rintih Raline. Napasnya mulai pendek-pendek, mencoba menahan rasa mulas yang datang melilit. Memang sejak semalam, dia merasa kontraksi. Namun takut hanya kontraksi palsu, maka dia hanya diam dan tak memberitahu suaminya yang sibuk. Takut mengganggu pekerjaan Jimmy. “Ya ampun! Kamu pasti capek dari tadi nyiapin ini semua! Ya udah, ayo kita ke dalam, kamu istirahat aja,” ujar Diana dan mencoba memapah lengan Raline agar beranjak dari sana. Namun, dalam kondisi kesakitan pun, Raline masih merasa tak enak hati. “Tapi, Mbak sama anak-anak gimana? Masa jauh-jauh dari Jakarta datang ke sini kuanggurin?” “Ya ampun, Raline! Yang penting tuh kesehatan kamu, itu lebih penting! Udah, gak usah mikirin aku!” sahut Diana seten
최신 업데이트 : 2025-12-16 더 보기