Setelah berhasil membawa Laras menjauh dari area taman dengan suasana yang canggung, aliran darah Dinda masih mendidih. Bahkan jika terlihat ada kepulan asap di atas kepalanya itu. Ya, sahabat Laras ini begitu sulit mengatasi gejolaknya pada pertemuan tadi. Ia terus saja menggumamkan kekesalannya sepanjang jalan, sementara Laras hanya tertawa pelan. Ini sudah biasa baginya."Gila ya, itu Bapak! Udah jelas-jelas ditolak, Laras bukan anaknya, masih aja maksa pakai sok-sokan bagi kartu hitam segala. Itu namanya pelecehan emosional tahuuu, Ras!" cecar Dinda, wajahnya memerah dan tangannya mengepal kuat."Sudah, Din, jangan emosi," tegur Laras, ambil mengusap-ngusap lembut lengan temannya."Gimana nggak emosi? Tadi dia bilang orang asing ke gue, padahal gue ini dokter di sini! Pernah ngerawat dia di IGD." Dinda mendengkus. "Gue tahu dia pasien VIP, tapi gue tetap nggak suka, gayanya itu loh … maksa banget, Lagian, tadi pas gue ngomong, dia malah lihatin gue aneh. Kayak kenal, tapi nggak
Read more