LOGINSabar ya tunggu di bab selanjutnya....!
Romeo celingak-celinguk menatap rumah besar super mewah milik Raka Razak ini. Dia bahkan tak bisa berkata-kata lagi, saat jalan ke samping dan melihat jejeran mobil-mobil beragam merek yang ada di garasi luas milik Raka Razak.5 Satpam rumah yang sebelumnya berjaga sempat menahanya di pos, karena curiga dnegan remaja tampan ini. Andai Romeo tak perlihatkan chat dari Raka, saat Romeo izin mau ke Jakarta, pasti dia masih di pos jaga itu hingga kini.Gaya yang katro, namanya jug ngedeso baru masuk ke rumah orkay, jadi pusat perhatian seorang remaja tanggung yang jelita. Dia heran ada remaja ganteng kayak kakeknya saat muda celingukan begitu.“Heii kaka lihat apa sihh?” tiba-tiba muncul seorang cewek cantik berusia 15-16 tahun dan menegurnya. Sesaat Romeo kaget dan terpana menatap si cantik ini, mana kulitnya putih lagi kayak blasteran.“M-met sore dek…Om Raka ada, aku Romeo dari Desa Cicini, udah janji mau ketemuan beliau” kata Raka sopan dan membungkukan badan, sambil menatap si cantik
“Ajarin nyopir?” Ujang dan Beti kaget dengan permintaan Romeo.“Emangnya ye mau beli mobil? Dyeeeh mentang-mentang udah kaya raya neekkk…!” kata Beti ikutan nyolot, tapi pastinya senang melihat sahabat mereka ini mulai berkibar dan pastinya tak pelit, saban hari traktir mereka di sekolah.Ujang yang memiliki mobil pic up milik ayahnya, yang biasanya di gunakan untuk angkut pasir, tak berani janji, sebab mobil ayahnya itu sering di pakai buat sarana kerja.Ujang sebenarnya sudah lihai, sebab dia sering di mintai ayahnya antarkan sirtu atau pasir ke pelanggan.Romeo…yang barusan tanda tangani kontrak dengan endorse senilai hampir 75 jutaan dan akan naik nilai kontraknya kelak, seiring dia menang terus, nekat ingin beli mobil secara kredit, walaupun belum bisa bawa mobil."Oke dehh, aku janji bila pas antar pasir atau sirtu, kamu aku jemput sekalian ajarin kamu nyiter," kata Ujang, hingga Romeo lega.Saat pulang ke rumah, ia kaget melihat sebuah mobil SUV compack hybrid warna putih yang n
Konfers berakhir dan Romeo izin dengan pelatihnya untuk keluar sebentar, matanya pun celingak-celinguk mencari-cari Yuli di luar hotel bintang 5 ini, dan harapannya terkabul saat melihat wanita pujaan hatinya itu sedang berjalan menuju ke parkiran mobil.Dengan berlari kecil Romeo dekati Yuli. “Yuli, tunggu!” Romeo langsung pegang tangan gadis cantik ini, yang di pegang langsung senyum manisss bingiiit.Yuli dulu dan kini agak beda, dia sama seperti Romeo, tubuhnya makin tinggi semampai bak model saja, padahal usianya sama dengan Romeo, 16 tahunan kurang 1 bulan lagi.“Kamu…kok bisa jadi wartawan sih?” ceplos Romeo penasaran. Yuli malah tarik tangan Romeo dan dia ajak Romeo bicara di tempat yang agak terlindung dari pandangan orang - orang.“Aku sengaja menyamar jadi jurnalis, sepupu aku yang wartawan sekaligus pemimpin redaksi sebuah TV swasta dan koran online membantuku, agar bisa ketemu kamu hari ini,” ceplos Yuli blak-blakn.Wajah Romeo kontan ceria, hatinya dan hati Yuli ternyata,
Di saat spanning keduanya sama-sama sudah tinggi dan kini tinggal satu penghalang lagi, Eneng akan berpolos ria dan satu dorongan pelan, akan merubah segalanya.Mante kontan terdiam, sebab selintas di otaknya terbayang wajah…Maya, ibunda dari wanita si cantik jelita ini, sekaligus mantan kekasihnya di masa lalu 16 tahunan yang lalu.Mante, langsung bangkit dari tubuh indah ini dan duduk di dekat Eneng, yang aslinya sudah pasrah dan dia tidak akan menolak di ajak terbang ke awan.Rudal balisitik yang awalnya tegang kini perlahan-lahan turun. Eneng yang kaget dengan perubahan ini lalu membuka matanya dan menatap pria bertubuh kokoh ini, yang duduk melengut di sampingnya ini dengan tubuh yang sudah polos.Saat Eneng menatap wajah Mante, Eneng kaget, mata pria matang yang ia kagumi ini terlihat berkaca-kaca.“Om…kenapa Om…menangis, apa yang terjadi, apakah Eneng ada salah?” kata Eneng menhaan debaran hatinya dan bertanya hati-hati.Mante menoleh ke samping, saat melihat tubuh mulus ini, ya
“Yuks Om kita jalan,” ajak Eneng Dafiana dan Mante pun mengangguk, meninggalkan Romeo yang masih diam termangu dan kini termenung duduk di teras.Romeo hanya menatap saat mobil mewah ini meninggalkan halaman rumah ini, setelah nenek Marsa masuk ke dalam. Beda dengan Romeo, si nene ini malah sudah beri lampu 'ijo' buat Mante dan Eneng.Romeo masih duduk termangu dan tidak beranjak dari tempatnya. “Wajah kakak dan Om Mante tak bisa bohong, keduanya agaknya saling menyukai, aaahh bikin pusing saja,” sungut Romeo menahan kemangkelan hatinya, sebab tak menyangka hubungan Mante dan kakaknya makin dekat.Saat akan masuk, datanglah Kang Ubet dengan motornya, Romeo menahan kakinya dan menahan tawa dengan pria ini, yang terus tak nyerah kejar kakaknya, padahal sudah di tolak Eneng.“Romeo mana kakakmu?” tanya Kang Ubed sambil bawa sebuah bungkusan dan mata Romeo menebak, pasti ini kue isinya.“Kakak aku sudah jalan dengan kekasihnya ke Jakarta barusan tadi,” sahut Romeo cuek, mata Kang Ubed s
“Kakek jangan bercanda aah..!” ceplos Romeo tak percaya, si kakek ini ngomong nya enteng banget, seolah duit nggak ada artinya buatnya, pikirnya.Sehingga bikin kaget lalu ketawa Mamon dan juga istrinya, sebab wajah Romeo terlihat luchuuu kalau lagi begitu. “Kak, kakekku itu nggak pernah becanda kalau nolong orang, ayoo aku temanin belanja,” kata si bocil Brandon yang sudah baikan kakinya, hingga bikin Romeo makin terkejut, tangannya setengah di seret Brandon.Hingga Romeo bak mimpi saja, saat tanganya terus di tarik Brandon menuju ke toko SOG* yang luas dan memanjang ke dalam ini, dikuti Mamon dan Brgitha di belakang. Bukan Romeo yang sibuk, tapi..Brigitha lah yang sibuk memilihkan pakaian buat Romeo, seolah si ganteng jangkung ini cucunya sendiri. Bahkan dua sepatu kets berharga lebih dari 5 juta juga di belikan. Hasilnya…empat kantong belanjaan kini berada di tangan Romeo. Tak lupa buat nenek dan kakanya juga ia belikan.Tidak cukup hanya itu, ponsel berharga lebi 30 jitog plus
Raymond terbawa aksi anak kandungnya ini berlatih beladiri, saking semangatnya, Raymond tak sungkan tunjukan ke salahan jurus dan tendangan, lalu di contohkan yang benar.Jauh beda dengan gaya Armani yang justru selalu bilang ilmu beladiri Mamon sudah bagus dan tinggal di latih secara rutin saja lag
Suatu hari yang tak bisa di lupakan dan tak di sangka-sangka Raymond Razak.“Raymond, aku mau bicara!” terdengar suara seorang wanita yang membuat Raymond tersentak kaget.Raymond yang baru saja akan naik ke mobil mewahnya untuk berangkat ke sekolah kontan berbalik. Dia melongo bukan main saat tahu
“Kamu bakalan punya PR besar kelak, si Veloxia agaknya klepek-klepek denganmu Raymond?” kata Rahma perlahan, saat menatap Gojali, Veloxia dan Bonar yang justru asyik berjoget di depan panggung kecil ini dan si Gojali malah asyik nyawer Veloxia yang lagi nyanyi.Raymond yang nggak pernah se humble ya
Raymond duduk termangu di balkon apartemen mewahnya, peringatan Rahma agar dia segera ambil alih lagi perusahaan miliknya jadi penyebabnya.Pikirannya sesaat mumets juga, ada apa dengan adik se ayahnya itu, apa yang membuat Rahma sampai minta dia jangan terlambat..?“Ada apa dengan si Armani? Kalau







