POV AngelaAaron menarik napas tipis, rahangnya mengeras. "Apa pun yang kubilang semalam — lupakan."Begitu saja. Lupakan. Seolah suara seraknya, rasa sakit yang lolos dari bibirnya, semua cuma angin lalu. Aku menatapnya, tak berkedip. "Bagaimana kalau aku tidak bisa melupakannya?" tanyaku, pelan tapi jelas. Tatapan Aaron langsung berubah. Mata itu naik menatapku penuh, dingin, dan tajam. Dalam sekejap, dinding itu kembali berdiri, tebal, tinggi, dan tak tersentuh. "Apa maksudmu?" katanya datar, tapi nada peringatannya tajam. Aku menelan ludah, memaksa diriku tetap tegak. "Aaron... semalam itu bukan cuma omongan orang mabuk. Setidaknya, aku tidak merasa begitu."Wajahnya mengeras. Dia tidak suka. Bukan cuma tidak suka, dia ingin keluar dari pembicaraan ini. Tapi aku tidak berhenti. "Aku ingin bertanya sesuatu," lanjutku, suaraku lebih lembut. "Tentang semalam... tentang itu." Mat
Last Updated : 2025-12-04 Read more