Dua hari setelah panggilan telepon pertamaku (dan panggilan kedua, dan ketiga—hanya tiga detik setiap kali, cukup untuk mendengar napasnya, tidak cukup untuk membuatnya curiga), perilaku Nuri berubah.Biasanya, dia keluar kamar pukul 06.15 pagi dengan langkah ringan, rambut basah, menyapa Ibu Kost dengan senyum lelah. Tapi hari ini, pukul 06.00, pintu kamarnya sudah terbuka.Aku mengintip dari balik tirai. Lubang koin di kain sarung bekas itu sudah menjadi lensa setiaku.Nuri berdiri di ambang pintu, tangan di pinggang, menatap halaman kost dengan tatapan yang tidak biasa. Matanya menyipit. Bibirnya mengerucut.Dia memeriksa sesuatu."Nduk, tumben pagi-pagi sudah berdiri di situ?" suara Ibu Kost dari dapur umum."Bu," suara Nuri tegang. "Ibu lihat siapa yang kemarin sore masuk ke halaman? Soalnya... barang-barang saya di kamar kayaknya ada yang berantakan."Ibu Kost mendekat, tangan mengelap celemek. "Berantakan bagaimana?""Ya... bukan berantakan sih. Tapi ada yang hilang. Barang keci
Baca selengkapnya