Dompet itu masih tergeletak di sana. Hitam, bisu, dan menuduh.Aku mundur selangkah. Tumit sepatuku menggerus kerikil, bunyinya terdengar seperti ledakan di telingaku yang berdenging.Aku harus mengambilnya. Aku harus mengejar pria itu. Itu yang dilakukan orang waras.Tapi kakiku berputar ke arah sebaliknya. Aku lari.Aku berlari meninggalkan taman itu seperti pengecut. Jantungku menabuh rusuk, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena teror yang dingin dan merayap. Setiap kali kakiku menghantam trotoar, otakku memutar ulang adegan tadi.Jas abu-abu. Dasi miring. Cat hijau yang mengelupas.Itu tidak mungkin. Statistiknya mustahil. Bagaimana mungkin aku menulis skenario acak di kepalaku, dan dunia nyata mematuhi skenario itu hingga ke detail terkecil?Aku sampai di lobi apartemen dengan napas memburu. Satpam di meja resepsionis, Pak Asep, menyapaku."Pagi, Pak Ivan. Tumben lari paginya ngebut banget?"Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk kaku, mataku memindai wajahnya dengan curiga.
Huling Na-update : 2025-08-24 Magbasa pa