Partager

Bab 23

Auteur: Millanova
last update Date de publication: 2025-09-24 21:32:41
Dua hari setelah panggilan telepon pertamaku (dan panggilan kedua, dan ketiga—hanya tiga detik setiap kali, cukup untuk mendengar napasnya, tidak cukup untuk membuatnya curiga), perilaku Nuri berubah.

Biasanya, dia keluar kamar pukul 06.15 pagi dengan langkah ringan, rambut basah, menyapa Ibu Kost dengan senyum lelah. Tapi hari ini, pukul 06.00, pintu kamarnya sudah terbuka.

Aku mengintip dari balik tirai. Lubang koin di kain sarung bekas itu sudah menjadi lensa setiaku.

Nuri berdiri di ambang p
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 34

    Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 33

    esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 32

    “Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 31

    Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 30

    Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 29

    "Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 22

    Mungkin caraku memegang kantong sampah. Mungkin caraku berjalan. Atau mungkin cara aku mengucapkan "sama-sama" dengan intonasi yang terlalu... halus.Aku harus lebih hati-hati.Pukul lima pagi, gerobakku sudah penuh sampai ke atas. Tumpukan kardus, plastik, dan sisa makanan menjulang seperti gunung

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 21

    Tiga minggu.Tiga minggu sejak aku merobek poster orang hilang dari tiang telepon. Tiga minggu sejak aku mematahkan hidung preman mabuk dengan sekop besi. Tiga minggu sejak aku memutuskan bahwa Ivan Sandlers sudah mati, dan yang hidup hanyalah Ipan: tukang sampah bau busuk tanpa masa lalu.Tiga ming

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 7

    Keesokan Harinya.Dunia terlihat lebih cerah saat kau tidak lagi berpikir dirimu gila.Aku bangun pukul sepuluh pagi dengan tubuh segar. Luka di tanganku masih perih, tapi dokter di klinik tadi pagi bilang itu hanya luka gores yang terinfeksi ringan. "Mungkin terkena benda tajam saat tidur," katanya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 6

    "Tiga hari."Kata-kata Sarah berdengung di kepalaku seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca.Aku berdiri di tengah ruang tamu apartemenku, menatap kalender digital di dinding. Hari Kamis. Tanggalnya merah menyala, mengejekku. Ingatan terakhirku yang utuh adalah Senin malam. Selasa dan Rabu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status