Dia menengok ke kanan dan ke kiri. Lehernya berputar cepat, memindai halaman kost yang sepi. Matanya liar, waspada.Dia mencari pengagumnya, batinku gembira. Dia ingin tahu siapa pangeran baik hati ini.Lalu, dia kembali menatap cokelat itu.Dia tidak memungutnya dengan tangan. Dia... menyentuhnya dengan ujung sepatu pantofelnya.Dia menggesernya sedikit. Membaliknya. Seolah memeriksa apakah ada ular di bawahnya."Kenapa?" bisikku bingung. "Itu bukan bom, Nuri. Itu cokelat."Tiba-tiba, wajahnya berubah. Bibirnya melengkung ke bawah. Hidungnya berkerut.Ekspresi jijik. Ekspresi takut.Dia mundur selangkah masuk kembali ke dalam kamar, lalu keluar lagi dengan membawa sapu lidi.Dengan gerakan cepat dan kasar, dia menyapu cokelat itu. Srek!Cokelat mahal yang kubeli dengan keringat dan harga diri itu terlempar dari keset, menggelinding jatuh ke tanah berpasir di halaman, mendarat di dekat selokan.Nuri menatap cokelat yang kini kotor itu sebentar, lalu bergidik ngeri. Dia buru-buru mengun
Last Updated : 2025-09-13 Read more