Keesokan harinya, Devan dan Chelsea pulang ke Jakarta. Sejak mereka keluar dari hotel, dan ketika berada di Bandara, keduanya hampir tak saling bicara. Devan melangkah lebih dulu, Chelsea mengikutinya dengan jarak yang sengaja dia atur, agar tidak terlalu dekat, dan juga tidak pula terlalu jauh. Seperti hubungan mereka sekarang, berjalan berdampingan tapi tak lagi searah.Di ruang tunggu, Devan sibuk menatap layar ponselnya yang kosong, sementara Chelsea duduk dengan tangan saling menggenggam di pangkuan, menahan perasaan yang terus bergolak. Tak ada obrolan ringan, tak ada rencana, bahkan sekadar basa-basi pun tak tercipta.Saat pesawat lepas landas, Chelsea memejamkan mata, berharap ada ketenangan yang turun bersama awan. Namun yang dia rasakan justru sesak. Di sampingnya, Devan menatap keluar jendela, memandangi birunya langit, tapi pikirannya tertinggal jauh di Denpasar pada cafe kecil, pada seorang anak yang memanggilnya om tampan, dan pada nama yang selama ini dia kubur dalam-
Last Updated : 2025-12-27 Read more