Cleo mengangguk pelan. “Kita jalani saja dulu, mengalir seperti air.”Devan menatapnya, lalu mengangguk mantap. “Iya, aku nggak mau memaksa apa pun. Aku tunggu, selama apa pun itu.”Belum sempat suasana kembali hening, Ramon sudah berlari mendekat, napasnya sedikit terengah, pipinya memerah karena terlalu asyik bermain.“Om Tampan sebenarnya tinggal di mana?” tanyanya polos, menatap Devan dengan mata berbinar.Devan tersenyum, lalu berjongkok agar sejajar dengan tinggi Ramon.“Sementara ini Om tinggal di hotel, dekat sini.”Ramon langsung memasang wajah penasaran. “Sendirian?”“Iya,” jawab Devan jujur. Ramon menoleh ke Cleo, lalu kembali ke Devan.“Kasihan, pasti sepi”Devan melirik Cleo sekilas, lalu kembali fokus pada Ramon.“Iya, makanya hari ini Om pengen main sama Ramon, biar nggak kesepian."Ramon berpikir sejenak, lalu berkata mantap, “Kalau Om kesepian, nanti Om boleh main ke cafe Mama. Di sana rame.”Devan terkekeh kecil. “Boleh?”“Boleh dong,” jawab Ramon cepat, lalu menamba
Read more