Dirga diam cukup lama sebelum akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan yang agak sepi. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan di sisi jalan. Ia mematikan musik yang sejak tadi mengalun samar, lalu menghela napas panjang—seolah sedang mengumpulkan keberanian.“Nad…” panggilnya pelan, suaranya terdengar berat.Nadine menoleh. Alisnya langsung berkerut saat menangkap ekspresi Dirga yang berbeda dari biasanya. Tidak bercanda. Tidak santai. Justru tampak ragu dan agak gugup.“Kamu inget, kan,” ujar Dirga akhirnya, menatap lurus ke depan, kedua tangannya masih menggenggam setir, “rumah itu tepat di sebelah rumahku.”Nadine mengangguk pelan. “Iya. Kita tetanggaan,” jawabnya hati-hati.“Itu alasannya,” sambung Dirga lirih.Nadine menunggu. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari.“Aku nggak setuju rumah itu dijual…” suara Dirga merendah, nyaris seperti gumaman, “karena kalau kamu pindah jauh, aku juga bakal jauh dari kamu.”Nadine terdiam. Kedua matanya membesar perlahan, seo
Last Updated : 2026-01-03 Read more