Masuk“Club malam?”Suara Dirga nyaris tercekat ketika mobilnya berhenti tepat di depan gedung berlantai dua dengan lampu-lampu neon menyala terang. Dentuman musik bahkan sudah terdengar samar dari luar, bergetar sampai ke kaca mobil.“Nad,” lanjutnya sambil menoleh cepat ke arah Nadine, alisnya berkerut dalam. “Kamu serius mau ke sini?”“Iya,” jawab Nadine singkat, menatap lurus ke depan. Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang jauh dari kata baik-baik saja. “Aku serius.”Dirga menghela napas panjang, tangannya masih mencengkeram setir.“Dari sekian banyak tempat, kenapa harus di sini? Kalau kamu cuma mau nenangin diri, banyak tempat lain yang lebih—aman.”Nadine menoleh. Tatapannya menantang, namun di balik itu ada kelelahan yang dalam.“Aku udah dua puluh lima tahun, Ga,” ucapnya pelan. “Selama ini hidup aku terlalu datar. Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak nahan diri.”Ia tersenyum kecil, getir.“Sekali ini aja… aku pengin ngerasain jadi anak muda beneran.”Di
Begitu selesai melakukan tanda tangan, Nadine langsung berdiri dan pamit dari sana. Ia berterima kasih pada Pak Adrian sebelum meninggalkan ruangan. Disusul Dirga yang sigap mengikutinya.Keduanya hendak masuk ke dalam mobil saat suara Rhevan terdengar memanggil.“Tunggu!”Nadine refleks mengurungkan niatnya dan berbalik. Memperhatikan mantan suami serta selingkuhannya yang berjalan sedikit tergesa ke arah mereka.“Mau apa lagi kamu, Mas?”Dengan tangan diletakkan ke saku celana, Rhevan membalas, “Aku cuma mau berterima kasih karena kamu sudah mau diajak kerja sama.”“Makasih sudah mau merelakan semua harta orang tua kamu untuk kita,” imbuh Rhevan disertai seringai puas.“Kamu jangan puas dulu! Siapa tahu itu hanya sementara.”Manik mata Rhevan seketika tertuju ke arah Dirga. Pria itulah yang baru saja membalas sarkasme Rhevan terhadap Nadine.“Sementara?” Rhevan terkekeh geli. “Udah jelas semua surat itu resmi. Dan Nadine sudah tak punya hak apa pun lagi. Di mana letak sementaranya?”
Kantor Pak Adrian siang itu terasa berbeda. Udara dari pendingin ruangan berembus dingin, namun sama sekali tak mampu meredam ketegangan yang menggantung di udara.Nadine duduk di sisi kiri meja panjang. Punggungnya tegak, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Wajahnya tampak tenang—terlalu tenang—seolah ia sedang memakai topeng yang dipaksakan. Di sebelahnya, Dirga duduk dengan rahang mengeras dan sorot mata datar, menahan banyak hal yang ingin ia ucapkan.Tak lama, pintu ruangan terbuka.Rhevan melangkah masuk lebih dulu. Penampilannya jauh lebih segar dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Setelan rapi, rambut tersisir sempurna, dan sorot mata tajam yang sama—mata seorang pria yang merasa menang. Lengannya dirangkul santai oleh Amanda, yang berjalan di sampingnya dengan senyum tanpa rasa bersalah.“Silakan duduk,” ujar Pak Adrian dengan suara formal, memecah keheningan yang menyesakkan.Rhevan mengambil posisi tepat di seberang Nadine, lalu duduk dengan sikap santai. Amanda
“Nadine! Nad!” Panggilan Dirga terdengar keras di lorong gedung pengadilan. Namun Nadine justru mempercepat langkahnya, seolah ingin menjauh—atau mungkin lari—dari kenyataan yang baru saja terjadi.“Nad, tunggu!”Dirga bergerak lebih cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Nadine dan menariknya perlahan namun tegas hingga langkah perempuan itu terhenti.“Katakan padaku!” ujar Dirga dengan nada ditekan, alisnya berkerut dan sorot matanya tajam menuntut jawaban, “apa maksud ucapan Rhevan tadi?”Nadine menarik tangannya, tapi genggaman Dirga terlalu kuat untuk diabaikan. Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun.“Aku…” suaranya nyaris tak keluar. “Aku terpaksa.”Dirga menatapnya lebih dalam. “Terpaksa bagaimana?”“Mama yang minta, Ga,” jawab Nadine akhirnya, suaranya bergetar. “Aku terpaksa nurutin keinginan Mama.”“Gila,” desis Dirga tanpa sadar. Rahangnya mengeras.“Aku tahu,” Nadine menyahut cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku tahu ini ide gila.”Ia
“Saya akan datang, Pak.” Suara Nadine terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus, seolah keputusan itu sudah tak bisa ditawar lagi.Pak Adrian menatapnya beberapa detik, mencoba membaca keyakinan di wajah kliennya. Setelah itu, ia mengangguk kecil. “Baik, Bu Nadine. Saya akan siapkan semuanya.”***Hari itu akhirnya tiba. Ruang sidang terasa dipenuhi atmosfer yang menekan. Udara seolah lebih berat dari biasanya, membuat napas Nadine terasa sedikit tertahan saat ia melangkah masuk.Ia mengenakan kemeja putih sederhana yang rapi, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya diikat rendah, tanpa riasan berlebih—hanya wajah pucat yang menunjukkan betapa panjang perjalanan emosinya hingga hari ini.Di sampingnya, Dirga berjalan setia menemani. Tak jauh di belakang, Bu Nana dan Bu Keke turut hadir, duduk sebagai barisan pendukung paling depan bagi Nadine.Saat hendak duduk, Dirga mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik pelan, “Kamu jangan terlalu tegang. Aku di sini.”Nadine mengan
“Nadine!” Bentakan Bu Darma membuat Nadine langsung bungkam. Tubuhnya menegang. Matanya membulat ketika melihat sang ibu tiba-tiba memegangi dadanya, napasnya memburu, sementara air mata menetes tanpa bisa ditahan. “Nyawa kamu jauh lebih berharga buat Mama,” ucap Bu Darmadengan suara bergetar, nyaris terisak. “Dibandingkan harta apa pun itu, Nak. Jadi tolong… ikhlaskan saja semuanya.” Ia menggeleng lemah, seolah menolak kenyataan yang juga melukainya. “Tutup semua lembaran buruk masa lalu kamu,” lanjutnya lirih namun penuh tekanan, “dan—mari kita fokus hidup lebih tenang di masa depan, Nak.” Nadine menggeleng perlahan. Dadanya terasa sesak. Semua perjuangannya—semua rasa sakit, semua keberanian untuk melawan Rhevan—akan menjadi sia-sia jika ia mengalah begitu saja. Dan itu bukan hal yang mudah ia terima. “Aku nggak bisa, Ma…” bisiknya hampir tak terdengar. “Nadine…” Bu Darma tiba-tiba berlutut di dekat kaki putrinya. Refleks, Nadine langsung bangkit setengah berdiri lalu ikut b







