Setelah Amanda dan Bu Wijaya pergi, Bu Darma hanya bisa termenung di ruang tamu yang mendadak terasa sunyi. Pandangannya kosong menatap lantai, pikirannya berkelana jauh memikirkan nasib Nadine.Beberapa menit berlalu. Ia masih duduk di posisi yang sama, jemarinya saling bertaut gelisah.“Mungkin mereka berdua cuma menggertaknya,” gumam Bu Darma lirih, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Nadine pasti baik-baik saja.”Namun rasa resah itu tak kunjung reda. Jantungnya justru berdetak semakin cepat, firasat buruk terus mengusik. Akhirnya, ia meraih ponselnya dan menekan nama Nadine.Tak lama, panggilan tersambung.“Halo, Ma? Ada apa?”Begitu mendengar suara Nadine yang terdengar ringan dan normal, napas Bu Darma langsung terasa lebih lega. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur.“Gak ada apa-apa, Nad,” jawabnya sambil tersenyum tipis, berusaha terdengar santai. “Mama cuma mau tahu kabar kamu aja.”“Aku baik kok, Ma. Ini baru pulang kerja. Mama sendiri gimana?”“Mama juga
Terakhir Diperbarui : 2026-01-08 Baca selengkapnya