Yanto melangkah semakin mendekat. Bayangan tubuhnya jatuh menutupi sebagian cahaya dapur, membuat ruang sempit itu terasa makin pengap. Wajahnya menggelap, sorot matanya tajam dan sulit ditebak.“Yang lebih menakutkan dari setan itu…” ucap Yanto pelan, nadanya rendah dan berat, “manusia, Mba.”Nadine tercekat. Tenggorokannya terasa kering seketika. Ia menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu dari cara Yanto menatapnya yang membuat perutnya melilit tidak nyaman.“O- oh…” Nadine tersenyum kaku, suaranya terdengar sedikit bergetar meski ia berusaha menutupinya. “Iya juga sih, Bang.”“Ngeri bener kan, Mba?”Nadine mengangguk. “I-iya.”“Makanya, Mba—” Yanto maju lagi selangkah, dan tentu saja Nadine langsung melakukan hal yang sebaliknya. “Mba harus hati-hati.”“Kalau itu saya udah tau, Bang.”Yanto masih diam di tempatnya. Tatapannya tak lepas dari wajah Nadine, seolah tengah menelusuri setiap ekspresi kecil yang muncul.Nadine meraih panci di atas kompor,
Última actualización : 2026-02-10 Leer más