Pagi datang tanpa kehangatan. Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, jatuh tepat di meja makan. Dua cangkir—satu kopi, satu teh—terletak berseberangan. Menjadi pelengkap roti bakar mentega sebagai menu sarapan. Amanda duduk dengan punggung tegak. Tangannya memegang ponsel, matanya menatap layar itu tanpa sedikitpun menggubris Rhevan yang ada di depannya. Sedangkan Rhevan sendiri juga sama saja, ia menyantap makanannya tanpa banyak bicara. Tak satu pun dari mereka membuka suara. Biasanya, dalam situasi seperti ini, Rhevan yang lebih dulu mengalah. Menghela napas, lalu berkata, “Maaf ya, semalam aku kebawa emosi.” Biasanya. Tapi pagi ini, tidak. Ia terlalu lelah untuk kembali jadi orang yang selalu menurunkan ego lebih dulu. Terlalu sering melakukannya, sampai ia sendiri lupa kapan terakhir kali dimengerti tanpa harus menjelaskannya lebih dulu. Amanda meneguk tehnya satu kali, lalu meletakkan cangkir dengan agak keras. “Jangan lupa, sore nanti kita ada fitting terakhir,” kata
続きを読む