تسجيل الدخولWanita itu tak langsung menjawab, Ia menaruh tas dan kacamatanya terlebih dahulu ke atas meja, lalu, tanpa aba-aba—Plak!Suara tamparan itu terdengar cukup keras, memecah suasana kafe yang sebelumnya tenang.Amanda langsung terpaku. Kepalanya sedikit miring ke samping akibat tamparan itu. Pipi kirinya memanas seketika. Beberapa pengunjung yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing, kini serentak menoleh.Amanda tidak langsung bereaksi. Matanya membulat, napasnya tertahan. Ia bahkan belum sepenuhnya memproses apa yang baru saja terjadi.Perlahan, ia kembali menoleh ke depan. Menatap wanita di hadapannya. Tatapannya berubah. Bukan lagi bingung, tapi tajam. “Apa yang—” Amanda baru membuka suara, hendak bertanya.Namun—Plak!Tamparan kedua mendarat. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Amanda tersentak. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang oleh kekuatan itu. Tangannya refleks mencengkeram sisi meja.Beberapa orang mulai berbisik. “Astaga…”“Itu kenapa sih?”“Berantem ya?”Semua y
Sementara itu, ditempat lain...Suasana sebuah kafe terasa hangat dengan lampu-lampu temaram dan alunan musik pelan yang mengalun di latar. Aroma kopi memenuhi udara, bercampur dengan suara obrolan ringan para pengunjung.Di salah satu sudut, Amanda duduk sendiri.Secangkir kopi di depannya sudah mulai dingin, tapi belum benar-benar ia sentuh. Jarinya hanya sesekali menggeser gelas itu tanpa sadar.Tatapannya berulang kali tertuju ke arah pintu masuk. Menunggu seseorang datang. Sudah hampir satu jam sejak ia datang.["Aku udah balik ke Jakarta. Nanti kite ketemu ya!"]Pesan sederhana dari Dimas itulah yang membawanya ke sini. Pesan yang berhasil membuat hatinya berdebar tidak karuan sejak siang tadi.Amanda menarik napas pelan. Jujur saja, ia rindu pada kekasihnya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu. Setelah hampir seminggu tidak bertemu, lengkap dengan segala drama di antara mereka, akhirnya mereka kembali berjumpa.Amanda melirik ponselnya lagi. Tidak ada pesan baru yang masuk. Ia
"Gio—" panggilnya pelan. Tapi Gio sudah berbalik. Tanpa menunggu lagi, ia berjalan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Clara sendirian.Clara berdiri di tempatnya, masih menggenggam tablet di tangannya. Matanya menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.Beberapa detik berlalu. Ia bahkan belum benar-benar mencerna apa yang barusan terjadi. Padahal beberapa saat yang lalu, keduanya masih biasa saja, tapi sejurus kemudian, semua berubah.Clara menghembuskan napas pelan. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia tidak tahu harus menyebutnya apa.Kesal?Atau rasa bersalah?Clara masih berdiri beberapa saat setelah Gio pergi. Tatapannya kosong, pikirannya berputar, tapi tidak benar-benar sampai ke satu kesimpulan.Lalu ia menghela napas panjang. “Ah…” gumamnya pelan, seolah menepis sesuatu.Ia menggeleng kecil, berusaha mengembalikan fokusnya. Tangannya kembali bergerak merapikan berkas, menutup tablet, lalu duduk di kursinya.“Paling juga nanti biasa lagi,” bisiknya pelan.Bukan tanpa al
Gio mengerutkan keningnya. Tampak jelas ia tidak puas dengan jawaban itu. “‘Nanti? Lihat dulu?” ulangnya pelan, tapi ada nada menekan di sana. "Kamu sering sekali bilang seperti itu saat aku ajak pergi."Clara menghela napas kecil, sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan berjalan. “Iya mau gimana lagi? Kita kan memang lagi banyak kerjaan, Gio.”“Pekerjaan kita memang nggak akan ada habisnya, Clara,” balas Gio cepat. Kali ini ia tidak lagi santai seperti sebelumnya. “Dari dulu juga begitu. Tapi bedanya—” ia berhenti sebentar, menatap Clara lebih dalam, “dulu kita masih sempat keluar. Bahkan kalau dibandingkan sebelum ama sesudah pacaran, kita lebih sering pergi saat masih PDKT.”Clara sedikit terdiam.“Sekarang?” lanjut Gio. “Kita udah dua bulan pacaran, tapi makan bareng aja bisa dihitung pakai jari.” Nada suaranya tidak tinggi. Tapi cukup untuk membuat Clara merasa tersentuh dan sedikit tersudut.Clara mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menata kata. “Kondisinya b
Clara menghela napas pendek, lalu kembali melihat tabletnya. “Terus yang kedua—” Ia berhenti. Karena saat mendongak lagi Gio sedang menatapnya. Lagi. Dan kali ini lebih intens. Clara langsung mengernyit. “Kamu kenapa sih?” Gio tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum kecil, santai sekali. “Kenapa apa?” tanyanya balik. “Kamu dari tadi…” Clara menunjuk ke arah matanya sendiri, “liatin aku terus.” Gio terkekeh pelan, sama sekali tidak terlihat bersalah. “Ya kenapa? Nggak boleh?” Clara langsung mendengkus. “Kita lagi kerja, Gio.” “Iya, aku juga lagi kerja,” balas Gio santai. “Kerja apanya kalau fokus kamu ke aku, bukan ke kerjaan?” Gio menyandarkan punggungnya, masih dengan ekspresi yang sama. “Multitasking.” Clara menatapnya tidak percaya. “Kamu tuh—” “Kamu cantik banget hari ini,” potong Gio tiba-tiba.
Pagi itu suasana kantor terasa seperti biasa—sibuk, penuh suara ketikan, dan aroma kopi yang masih hangat. Tapi ada satu hal yang berbeda. Nadine. Begitu ia masuk ke ruangan, langkahnya ringan. Wajahnya cerah. Bahkan senyumnya tidak lepas sejak tadi. Dea yang melihat itu langsung menyipitkan mata. “Lah, Mba Nad kenapa pagi-pagi udah glowing banget gitu?” celetuknya sambil memutar kursi ke arah Nadine. Sarah ikut menoleh, alisnya terangkat. “Iya, biasanya juga cerah sihsih, tapi ini beda. Ini levelnya kayak habis dapet kabar bahagia banget.” Nadine yang sedang menaruh tas hanya terkekeh kecil. “Apaan sih kalian.” Dea menyandarkan dagu di tangannya, menatap penuh selidik. “Jujur aja Mba! Semalem ada apa kamu sama Pak Dirga?” Nadine berhenti sebentar. Lalu tanpa sadar senyumnya kembali muncul. Itu cukup jadi jawaban. “NA
Staf butik itu tampak sedikit ragu. Bibirnya sempat terbuka seolah hendak menjawab pertanyaan Amanda. Namun sebelum ia mengatakan apa pun— “Manda.” Suara Rhevan tiba-tiba terdengar dari arah ruang ganti. Amanda menoleh. Rhevan keluar dari ruang ganti dengan jas yang baru saja ia coba. Jas itu
Rhevan menatap Nadine dengan tajam. Lalu ia melangkah mendekat. Sepatu kulitnya berdetak pelan di lantai marmer, namun suara itu terasa sangat jelas di tengah keheningan kerumunan. Nadine ikut menegang ketika Rhevan berhenti tepat di depannya. Dan sekarang, jarak mereka menjadi sangat dekat. Cuku
Pagi itu, mata Nadine terasa berat. Semalaman ia hanya bisa memejamkan mata sebentar, lalu kembali terbangun dengan rasa gelisah yang sama. Ponselnya berkali-kali ia cek, tapi tetap saja—tak ada kabar dari Rhevan. "Kenapa Mas Rhevan susah banget buat dihubungi?" "Apa di sana gak ada sinyal?" tany
Nadine menutup pintu kamarnya yang ada di lantai dua dengan cepat, seolah ingin mengusir bayangan yang baru saja terjadi. Punggungnya bersandar ke pintu, jantungnya masih berdetak kencang tak beraturan. Ia meremas jemarinya sendiri. Kulit tubuh Dirga masih terasa di telapak tangannya. "Apa yang Dir







