로그인Mobil pun menepi ke sebuah coffee shop sesuai permintaan Nadine. Namun, suasana di dalam kabin justru terasa sedingin es. Nadine terlanjur badmood karena peristiwa tadi. Melihat istrinya masih marah, Dirga berusaha mencairkan suasana. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, jemarinya terulur. Mengusap lembut pipi Nadine, tapi di tepis begitu saja secara kasar olehnya. Nafasnya masih kasar. Ya, Dirga bisa mendengar hembusan nafasnya memecah keheningan di dalam mobil. Kali ini nata Nadine tengah sibuk mencari ponselnya. “Di laci mobil, Sayang, sahut Dirga lembut. Nadine hanya membalas dengan lirikkan tajam, lalu berbalik membelakangi suaminya yang masih menatapnya lekat. “Jadi kamu mau titip apa, Sayang?” lagi bujuk Dirga namun Nadine tak menggubrisnya. Tak mau menyerah, ia langsung berbisik tepat di telinga Nadine dengan bertanya hal serupa. Hanya saja respon Nadine kali ini tak seperti biasa.
Baru tiga hari status suami-istri itu melekat, namun Dirga dan Nadine sudah harus berhadapan dengan realita. Sesuai janji yang mereka sepakati sebelum pelaminan digelar, pagi ini mereka harus kembali memutar roda rutinitas seperti semula. Pagi itu rasanya berat sekali mata Nadine bisa terbuka. Dirga benar-benar melumatnya habis hingga dini hari tadi. Bahkan suaminya ini benar-benar tak memberinya jeda sama sekali untuk bernapas. Tubuh Nadine remuk karena berkali-kali Dirga menidih dan memutar tubuh Nadine ke berbagai posisi–untuk mencapai puncaknya. Nadine bangun dengan susah payah, tapi Dirga malah menariknya kembali ke dalam pelukan hangat di balik selimutnya. “Kamu mau ke mana Sayangku?” tanya Dirga dengan parau lagi berat. Suaranya berat sekali, mungkin Dirga juga sama-sama lelah. Dengan jemari yang masih terasa lemas, Nadine menyisir lembut helai rambut Dirga yang berantakan hingga menutupi sepasang mata tajam yang ki
“Masih sama seperti dulu, kan? Aromanya, suasananya, dan tentunya, orangnya,” bisik Dirga dengan nada menggoda yang hangat. Nadine kikuk, ia hanya memucungkan bibirnya terlebih malu salah tingkah. Dirga menyuguhkan piring yang sudah terisi oleh makanan kesukaan Nadine. Tak lupa juga minuman kesukaan istrinya ini yang tak pernah berubah dari dulu. Mata Nadine berbinar senang. Seolah semua yang terjadi saat ini sirna karena hal sesederhana ini. Ia menyerbunya dengan semangat sekali. “Makasih ya, Sayang. Wah, ini kesukaan aku banget! Ternyata kamu masih inget ya?” Dirga hanya menyinggungkan senyum seperti tanda bahwa ia sudah kenal betul istrinya ini. Akhirnya mereka pun makan siang dengan tenang. Lagi riang. Sedikit banyaknya Dirga mengingatkan kembali masa-masa mereka masih di sekolah. Tak jarang Nadine berhasil dibuat cekikikan karenanya. “Kamu tuh yang hobi banget bolos! Padahal waktu itu kamu udah sering b
Jendela yang semula kecil itu seolah meluas. Membingkai memori pahit yang mendadak kembali tajam. Tepat di sana, di seberang pandangan, adalah kamar utama—saksi bisu pengkhianatan Rhevan yang menghancurkan dunianya. Kenangan itu menghantam Nadine! Bayangan perselingkuhan yang ia pergoki sendiri membuat tenggorokannya tercekat, sementara dadanya bergemuruh oleh sisa tangis yang dulu pernah runtuh. Matanya membulat sempurna, bukan karena terkesima tapi kekecewaan yang tak pernah ia sangka. Terekam jelas bagaimana pertengkaran itu terjadi di benak Nadine. Bahkan tangis yang benar-benar runtuh menyesakkan batinnya. Napasnya memendek, tersengal oleh rasa sakit yang kembali merambat. “Sayang?” Panggilan itu hanya lewat di telinganya. Nadine masih mematung, terkunci dalam trauma hingga sebuah sentuhan hangat mendarat di jemarinya. Dirga, dengan sisa kepanikan yang disembunyikan, menariknya tegas. Ia tak ingin Nadine tenggelam le
Suasana mendadak sepi. Hanya menyisakan mereka berdua yang masih betah berdiri di teras rumahnya. Nadine diam, Dirga pun sama, sampai akhirnya mata mereka beradu tatap. Ada kehangatan yang berbeda dalam tatapan Dirga kali ini. Tanpa perlu banyak bicara, sorot matanya seolah mengatakan sesuatu pada Nadine, "Tenang, semuanya bakal baik-baik saja." Dirga ingin Nadine tahu satu hal, dan ia benar-benar menjanjikan itu. Bahwasannya kali ini dia–Nadine–istrinya benar-benar pulang, dan dia tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Dirga tak melepaskan dekapannya sedikit pun, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Nadine. Dengan sapaan lembut ia kembali membujuk sang istri. “Ayo, Sayang,” ucap Dirga lembut. Nadine menarik nafasnya panjang, mencoba mengurai sesak yang masih tertinggal di dadanya. Berat… meski hatinya sudah mulai tenang, ia sadar jika itu memang butuh waktu. Lengan hangat Dirga melingkar di ping
“Loh! Ternyata Mbak Nadine dan Mas Dirga, toh?” Bu RT yang semula diam di sebrang pintu langsung menghampiri mereka. “Astaga, gimana kabar kalian Mas, Mbak? Maaf ya Mbak, Mas, Ibu ngintip-ngintip rumah kalian. Soalnya disini lagi rawan maling juga. Ibu takut ada orang asing masuk rumah kalian.” Nadine mengulas senyumnya tak keberatan. Ia juga turut menyambut dengan pelukan. Pun Bu RT menempelkan pipinya begitu saja pada Nadine. Sebagai tanda rindu dan diterimanya kembali Nadine kesini. “Berasa mimpi Ibu bisa lihat lagi kalian disini.” Nadine dan Dirga hanya terkekeh. Suasana di teras rumah mendadak ramai oleh tawa kecil dan obrolan ringan. Bu RT masih tampak tidak percaya, jemarinya menepuk-nepuk punggung tangan Nadine dengan gemas. “Aduh, Mbak Nadine lama enggak ketemu makin cantik ya. Eh tapi…” Kalimatnya seketika menggantung. Tatapan ikut berubah juga. Menyelediki dengan sek
Nadine menatap layar ponselnya lebih lama dari yang seharusnya. Jemarinya menggenggam perangkat itu erat, seolah kalau ia melepaskannya sedikit saja, hatinya akan ikut jatuh. Story itu masih ada. Viewers-nya bertambah satu per satu. Tapi nama yang ia tunggu… tetap tidak muncul. Dirga. Nadine m
Nadine mulai beranjak dari sana. Ia langsung masuk ke dalam gedung dan berjalan menuju lift. Begitu pintu lift terbuka, langkah Nadine langsung terhenti.Dadanya serasa ditusuk ribuan pisau.Bagaimana tidak, di dalam lift itu—Dirga dan Clara sudah berdiri lebih dulu.Nadine melangkah masuk dan berd
Pintu lift tertutup perlahan tepat setelah Nadine masuk. Bunyi *ting* yang pelan terdengar, bersamaan dengan naiknya kabin lift meninggalkan lantai dasar.Nadine berdiri menghadap pintu, kedua tangannya mencengkeram tali tas kerjanya lebih erat dari biasanya. Dadanya terasa sesak karena perasaan ya
“Padahal Nadine juga cuma nganggep kamu temen.”Kalimat itu menggantung di udara—tajam, menyakitkan, dan terlalu jujur untuk diabaikan.Clara menghela napas pendek, lalu kembali menatap Dirga. Sorot matanya kini lebih dingin, lebih terluka.“Kenapa kamu nggak fokus aja sama orang yang beneran suka







