"Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi, aku janji nggak akan buat kamu sedih lagi,” ucap Rhevan lirih sambil menarik pundak Amanda ke arahnya. Ia memeluk Amanda erat, seolah ingin menebus semua kata kasar yang terlanjur keluar semalam. Dagu Rhevan bertumpu di puncak kepala Amanda, napasnya masih berat, suaranya serak penuh penyesalan. “Aku bersumpah, Manda,” lanjutnya pelan tapi tegas. “Aku nggak akan ngecewain kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu cuma gara-gara kebodohanku.” Tubuh Amanda membeku di dalam pelukan itu. Tangannya tetap menggantung di sisi tubuh, tidak berniat membalas. Wajahnya mengeras, amarah belum sepenuhnya hilang, meski kata-kata Rhevan mulai mengikis pertahanannya sedikit demi sedikit. Beberapa detik berlalu, akhirnya Rhevan melepaskan pelukan itu perlahan dan kembali berkata, “Hari ini aku libur,” katanya tiba-tiba. Nada suaranya lebih ringan kali ini. “Aku kosongin semua jadwal hari ini demi kamu.” Amanda mengerjap, sedikit terkejut. “Aku mau nemenin kamu
Read more