Teilen

Malas Ribut

last update Veröffentlichungsdatum: 29.03.2026 19:24:16

Sementara itu, di sisi kota yang lain. Mobil Rhevan melaju dengan kecepatan tidak stabil. Tangannya memegang setir, tapi pikirannya ke mana-mana.

Lampu merah terlewati tanpa ia sadari. Klakson bersahutan di belakangnya.

“Haa…” desahnya pelan— entah untuk yang keberapa kalinya hari itu. Namun bukannya fokus kembali, wajahnya justru semakin gelap.

Bayangan wajah Amanda muncul di kepalanya. Rhevan menghela napas kasar. “Pasti dia bakal nanya dari A sampai Z,” desisnya kesal. “Lalu dia pasti akan b
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Terimakasih Pengertiannya

    "Ga, aku boleh tanya sesuatu?" Perempuan itu mulai angkat bicara. Namun terdengar nada kehati-hatian di sana. Juga sedikit rasa ragu. Alis Dirga sedikit berkerut saat melihat ekspresi wajah Nadine yang berubah jadi lebih serius. "Nanya apa, Nad?" “Kalau nanti kita udah nikah—” Nadine berhenti sebentar, mencari kata. “Aku boleh tetap kerja nggak?” Dirga menatapnya. Wajahnya berubah serius dan dalam. Pertanyaan barusan membuatnya agak kaget. Nadine menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Kalau aku mau lanjut karir aku—” lanjutnya pelan, “kamu gimana?” Dirga tidak langsung menjawab. Ia bersandar sedikit, lalu menghela napas pendek. Dan ketika ia bicara, nadanya berubah tegas. “Kenapa kamu nanya itu?” Nadine sedikit gugup. “Cuma… pengen tau aja.” Dirga men

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Wanita Karir atau IRT

    “Tapi Mba,” Dea tiba-tiba menyipitkan mata, seperti baru kepikiran sesuatu. “Kalau Pak Dirga gimana?” Nadine menoleh. “Maksudnya?” “Ya…” Dea mengangkat bahu. “Kalau misalnya dia nggak ngebolehin kamu kerja gimana? Padahal kamu masih mau ngejar karir?” Nadine langsung terdiam. Pertanyaan itu cukup untuk membuatnya berpikir sejenak. “Gimana kalau dia pengen kamu full di rumah aja?” lanjut Dea santai, tapi jelas ada nada penasaran di sana. Nadine menelan ludah. Beberapa detik ia hanya diam, mencerna kemungkinan itu. Dirga melarangnya kerja? Entah kenapa, bayangan itu terasa mustahil. Tapi bukan tidak mungkin. “Aku…” Nadine menghela napas pelan, “jujur belum pernah nanya ke dia soal itu.” Dea mengangkat alis. “Serius?” “Iya,” Nadine tersenyum kecil. “Kita belum sampai bahas sedetail itu.”

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Coba Tanya Dirga

    Sarah menatap Nadine dengan ekspresi penuh harap, meskipun masih ada sisa kesal di wajahnya. “Mba Nad…” katanya sambil mendekat sedikit, menurunkan nada suara. “Coba deh ngomong ke Pak Dirga.” Nadine langsung mengernyit tipis. “Ngomong apa?” “Ya soal ini,” jawab Sarah cepat. “Suruh buka loker baru buat admin gitu! Kita kekurangan orang banget kayaknya. Makanya kerjaan jadi numpuk semua ke kita.” Dea yang berdiri di samping hanya melirik sekilas, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Nadine menghela napas pelan. “Mba Sarah…” ucapnya hati-hati, “itu kan kebijakan perusahaan, dan itu nggak ada hubungannya sama aku.” “Iya, aku tau,” potong Sarah cepat. “Tapi kan kamu bisa ngomong ke dia. Maksudku, kamu kan calon istrinya Pak Dirga. Pasti bisa dong bujuk dia untuk nambah pegawai.” Nadine langsung menggeleng kecil. “Aku nggak mau ikut campur urusan kayak gitu,” jawabnya tenang, tapi tegas. “Meskipun aku sama dia ada hubungan, tapi itu diluar ranahku, Mba." Sarah mend

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Berhenti OVT

    "Kenapa kamu nanya gitu?" Amanda langsung tersenyum tipis, meskipun hatinya tidak ikut tersenyum. “Nggak apa-apa,” katanya ringan. “Cuma nanya aja.” Suara Dimas kembali terdengar lebih tegas. “Amanda…” panggilnya, nada suaranya berubah. “Kamu jangan gampang OVT deh!” Amanda langsung diam. Alisnya perlahan berkerut. “Aku nggak suka kalau kamu jadi curigaan gini,” lanjut Dimas. “Aku lagi kerja. Sibuk. Udah itu aja! Kamu jangan mikir macam-macam!” Amanda mendengkus pelan. “Ya gimana aku nggak curiga?” balasnya, kali ini tidak lagi berusaha menutup-nutupi. “Kamu tiba-tiba susah dihubungi, terus tiap ditanya jawabannya gitu-gitu aja.” Dimas memilih untuk tidak memperpanjang. Amanda menghela napas, mencoba menurunkan emosinya. “Ya udah, aku bakal berhenti OVT,” katanya akhirnya, lebih pelan. ““Tapi…” lanjutnya, “kamu kapan pulang?” Lagi-lagi, Dimas diam. “Dim?” panggilnya lagi, sedikit mengernyit. "Aku akan pu—" Belum sempat dia melanjutkan ucapannya dan menutup telfonn

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ingin Jadi Satu-satunya

    Amanda terdiam cukup lama setelah kata-katanya sendiri menggantung di udara. Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi kini perlahan melemah. Lalu tiba-tiba sebuah ingatan muncul begitu saja. Ucapan yang dulu pernah ia lontarkan dengan santai, bahkan sambil tertawa kecil. [“Aku mah nggak masalah kalau harus jadi pelakor lagi.”] Amanda langsung mengernyit. Wajahnya berubah. “Itu…” gumamnya pelan, suaranya terdengar getir, “bohong.” Ia menggeleng kecil. Bukan “bohong” sepenuhnya, lebih tepatnya—menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan. Siapa sih yang benar-benar mau jadi orang ketiga? Siapa yang mau dicintai tapi harus berbagi? Amanda tertawa kecil meskipun tidak ada yang lucu. “Konyol banget aku waktu itu,” bisiknya lirih. Ia menatap jauh ke depan, matanya mulai berkabut. “Aku juga pengen jadi satu-satunya.” Amanda tidak menyangkalnya. Ia juga ingin dicintai dengan utuh. Tanpa bayangan orang lain. Tanpa harus sembunyi-sembunyi. Tanpa harus merasa bersalah. “Tapi kenapa?” alisny

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jadi Pelakor Untuk Kedua Kalinya?

    Sementara itu, di tempat lain… Langit malam tampak gelap tanpa bintang. Angin berhembus pelan, mengibaskan tirai tipis di balkon rumah Amanda. Amanda berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya muram, alisnya berkerut sejak tadi. Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak Dimas bilang “keluar kota” untuk urusan kerja. Dan sejak itu, pria itu seperti hilang. Membuat Amanda merasa ditinggalkan. Teleponnya jarang diangkat. Kalaupun tersambung, jawabannya singkat, terburu-buru, seperti tidak punya waktu. Chat? Dibalas.Tapi lama. Sangat lama. Amanda menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Apa sih sebenarnya yang dia lakukan?” gumamnya pelan. Ia mengambil ponselnya lagi, menatap layar chat yang terakhir. [“Kamu lagi di mana?”] Ia mengetik pesan itu dari pagi. Dan dibalas singkat sore harinya sambil berjanji akan mengubunginya lagi nanti. Dan “nanti” itu hanya jadi angin lewat hingga detik ini. Amanda meng

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Diabaikan

    Pintu lift tertutup perlahan tepat setelah Nadine masuk. Bunyi *ting* yang pelan terdengar, bersamaan dengan naiknya kabin lift meninggalkan lantai dasar.Nadine berdiri menghadap pintu, kedua tangannya mencengkeram tali tas kerjanya lebih erat dari biasanya. Dadanya terasa sesak karena perasaan ya

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-31
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Patah Hati

    Akhir pekan pun tiba. Sejak siang, Nadine sudah terlihat sibuk di dalam kamar kosnya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan penampilannya. Ia memakai sweater rajut warna krem dengan motif diamond knit dan model crop. Sedangkan bawahannya, ia memakai wide-leg pants warna abu-abu muda.

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-31
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Bertepuk Sebelah Tangan

    “Padahal Nadine juga cuma nganggep kamu temen.”Kalimat itu menggantung di udara—tajam, menyakitkan, dan terlalu jujur untuk diabaikan.Clara menghela napas pendek, lalu kembali menatap Dirga. Sorot matanya kini lebih dingin, lebih terluka.“Kenapa kamu nggak fokus aja sama orang yang beneran suka

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-31
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mencurigakan

    Clara langsung mengerutkan kening. Ia menoleh lagi ke arah Dirga, memastikan ia tidak salah dengar barusan. “Di atas?” ulangnya pelan sambil memiringkan kepala. “Maksud kamu… lantai atas?” Dirga yang sudah setengah melangkah langsung berhenti. Bahunya sedikit menegang. Ia berbalik dengan senyum y

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-31
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status