Sky berjalan cepat. Terlalu cepat bagi Reya yang sebenarnya tidak ingin, tapi terpaksa ikut melangkah karena tangannya sudah diapit kuat oleh putranya. Mau tidak mau ia ikut terseret.Di depan loket, Langit sudah menunggu.“Coach!”Sky mengangkat tangan, dan Langit menyambutnya dengan tos tinggi yang di balas penuh semangat. Senyum pria itu lebar, matanya bersinar – tapi bukan ke arah Reya.Atau setidaknya, belum.Langit terlihat seolah memang datang untuk menyambut Sky. Bukan Reya.Setelah tos itu pun, Langit tidak langsung menoleh ke arahnya. Pria itu justru lebih dulu menyapa Wendy.“Hai, Wen.” Ia mengangkat tangan santai. “Semoga elo nggak bosen ya, hari minggu masih harus ketemu bos,” kekehnya.“Kalau bos nya elo, gue aman aja sih, Bang.”Langit tertawa kecil. “Emang bos yang mana yang gak aman?”Wendy mencebik.Barulah setelah itu, Langit menoleh ke Reya. Tidak ada sapaan. Tidak ada kalimat. Hanya sebuah anggukan kecil dan senyum tipis. Sederhana.Tapi justru karenanya Reya jadi
Read more