Langit berdiri cukup lama di depan pintu. Tangganya sempat menyentuh knop, tapi ia tarik lagi. Telapak tangannya dingin, dadanya berdebar gugup. Rasa malu, takut dan bersalah bercampur jadi satu. Ini konyol. Ia seorang CEO perusahaan sebesar Skywave, menghadapi rapat direksi, investor yang banyak tuntutan, krisis perusahaan, semua sudah jadi makanan sehari-harinya. Tapi sekedar membuka pintu kamar saja, jantungnya seperti akan melompat keluar.Langit menghela napas keras. Tangannya menggenggam knop sekali lagi. Meski masih gemetar, ia akhirnya mendorong pintu itu pelan.Time to face it, batinnya pasrah.Kamar Sky tidak ternyata tidak jauh dari ruang makan. Begitu pintu terbuka, Langit langsung disambut oleh kecanggungan yang tak terelakkan. Reya. Wendy. Sky.Ketiganya langsung serempak menoleh. Tidak ada ruang untuk bersembunyi. Langit berhenti.Ia berdiri di ambang pintu, canggung, seperti anak sekolah yang
Read more