Sarapan berakhir dengan cara yang biasa, Lein menghabiskan buburnya dengan tingkat keberhasilan yang cukup untuk dianggap selesai, dan Evelyne mengumpulkan piring-piring ke arahnya untuk dibawa ke dapur.Ia masih punya waktu sebelum sesi latihan siangnya. Satu putaran lagi, dan Ranah Dewa sudah bisa ia sentuh ujungnya. Ranah Abadi tingkat puncak terasa seperti ruangan yang sudah terlalu kecil untuk ditempati, dan setiap kali ia berlatih, ia merasakan batas itu semakin tipis.Ia baru mengambil dua langkah ke arah dapur ketika sebuah suara datang.Bukan suara yang bisa didengar dengan telinga biasa, bukan pula sesuatu yang bisa digambarkan sebagai suara. Lebih seperti tekanan yang tiba-tiba ada di atas, di langit, di tempat yang seharusnya hanya ada udara dan ketenangan pagi.Lalu gemuruh menyusul.Bukan petir, bukan badai, melainkan sesuatu yang lebih dalam dari itu, getaran yang terasa di telapak kaki dan di tulang dada sekaligus, seperti sesuatu yang sangat besar dan sangat berat bar
Read more