"Erika... Halo..." panggil Mas Jefri di balik telepon dengan nada yang semakin cemas.Dengan terpaksa, aku menggigit bibir bawah Steafen sekuat tenaga agar ia mau melepas ciumannya. Ia tersentak, mengerang pelan, lalu melepas dekapannya padaku. Napasnya memburu saat menatapku tajam. Tepat saat ia mengusap bibirnya yang sedikit berdarah, aku langsung berbalik berlari menuju mobil dan menguncinya dari dalam."Halo... Maaf, Mas. Tadi saya sedang terburu-buru keluar gedung untuk kembali ke kantor," ucapku berkelit, berusaha menormalkan napas yang masih tersengal-sengal."Maaf, Erika. Saya sudah mengganggu pekerjaanmu.""Nggak apa-apa, Mas. Kita lanjut bicara nanti, ya. Saya akan menghubungi Mas Jefri saat mencoba gaun pengantin di bridal sore ini.""Baik, Sayang..."Aku membuang napas berat yang terasa panas setelah mengakhiri panggilan itu. Lalu, aku mengempaskan tubuhku yang sejak tadi tegang ke sandaran jok mobil."Apa yang sudah aku lakukan?" gumamku kalut. Aku memejamkan mata rapat
Read more